Rabu 27 Mar 2024 13:55 WIB

Takut Gempa Susulan hingga Tsunami, Warga Bawean Belum Berani Tidur di Rumah

Tim relawan psikolog menyebut lansia paling antusias ikuti trauma healing

Petugas medis memeriksa kesehatan warga terdampak gempa di Dusun Tanjungmulya, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, Selasa (26/3/2024). Dinas kesehatan setempat melalui Pos Komando Tanggap Darurat Bidang Kesehatan memberikan layanan kesehatan keliling guna memastikan kondisi kesehatan dan mengantisipasi terjangkit penyakit bagi warga terdampak gempa. ANTARA FOTO/Rizal Hanafi
Foto: ANTARA FOTO/Rizal Hanafi
Petugas medis memeriksa kesehatan warga terdampak gempa di Dusun Tanjungmulya, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, Selasa (26/3/2024). Dinas kesehatan setempat melalui Pos Komando Tanggap Darurat Bidang Kesehatan memberikan layanan kesehatan keliling guna memastikan kondisi kesehatan dan mengantisipasi terjangkit penyakit bagi warga terdampak gempa. ANTARA FOTO/Rizal Hanafi

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Tim relawan dari Dinas Sosial (Dinsos) Jatim mulai menjalankan program trauma healing bagi masyarakat pulau Bawean, Gresik, yang terdampak gempa di perairan Kabupaten Tuban. Ketua Tim Bencana Sosial dan Layanan Dukungan Psikososial Bidang Penanganan Bencana Dinsos Jatim, Liawati Suntiana mengungkapkan, gempa beruntun tersebut menimbulkan trauma mendalam, terutama bagi para orang tua.

"Orang tua yang paling ketakutan karena terus menerus (gempanya). Mereka lebih percaya berita hoaks daripada BMKG," kata Liawati, Rabu (27/3/2024).

Liawati mencontohkan, salah satu berita hoaks yang sangat mereka percayai adalah terkait adanya tsunami sebagai dampak dari gempa yang terjadi. Berita bohong tersebut membuat para orang tua di sana sangat ketakutan, dan bahkan tidak berani tidur di dalam rumah.

"Mereka lebih mempercayai berita hoaks. Makanya tidur di luar tidak mau masuk di rumah," ujarnya.

Liawati menjelaskan, tim relawan psikolog yang diterjunkan, awalnya menjalankan trauma healing dengan sasaran utamanya adalah anak-anak. Tetapi ternyata antusiasme paling besar justru warga orang tua hingga lansia.

"Masih banyak di luar masih trauma. Kalau yang datang (mengikuti trauma healing) sudah terang-terangan menyampaikan. Shalat, sujud, takut, apalagi masuk ke rumah," ucapnya.

Karena ada perbedaan kalangan usia tersebut, lanjut Liawati, tim trauma healing memberikan pendampingan dengan menggunakan dua metode berbeda. Khusus bagi anak-anak, metode yang digunakan adalah pedagogis. Sedangkan orang tua memakai metode andragogis.

"Kalau anak-anak sentuhannya harus happy. Untuk orang tua mereka harus percaya dulu nih sama kita. Paling tidak mereka percaya sama kita untuk menghilangkan trauma," kata dia.

Liawati mengatakan, trauma healing bagi warga Pulau Bawean rencananya dilaksanakan hingga tiga hari ke depan. Pihaknya, akan mendatangi tempat-tempat pengungsian untuk memberi edukasi sekaligus pendampingan. 

Berdasarkan data Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas II Pasuruan, total telah terjadi 303 kali gempa bumi yang berpusat di utara perairan Tuban atau lebih dekat dengan Pulau Bawean mula Jumat (22/3/2024) hingga Selasa (26/3/2024). Lokasi gempa berada di  titik 5,74 Lintang Selatan, 112,32 Bujur Timur atau 132 kilometer Timur Laut Tuban. Gempa berpusat di laut dengan kedalaman 6 hingga 10 kilometer.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement