Kamis 08 Feb 2024 17:20 WIB

ICMI Ajak Tokoh dan Akademisi Kampanye Pemilu Damai dan Saling Menghormati Hak Politik

ICMI imbau semua pihak menghormati hasil Pemilu 2024.

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Erdy Nasrul
Logo ICMI
Foto: tangkapan layar google image
Logo ICMI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) menyayangkan sikap saling menyalahkan dalam berbagai deklarasi terbuka para tokoh nasional, dan akademisi terkait Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Ketua Dewan Penasihat ICMI Profesor Jimmly Asshiddiqie mengimbau agar para tokoh, dan guru-guru bangsa, serta kalangan akademisi mencukupkan diri untuk mendeklarasikan, atau mengajak pada pelaksanaan pesta demokrasi yang damai, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Baca Juga

“Saya menganjurkan agar suara-suara dari kampus, perguruan tinggi, dan tokoh-tokoh bangsa, dengan kemulian niat dan maksud masing-masing agar, cukuplah menyuarakan sebatas himbauan kepada sesama untuk pelaksanaan pemilu yang damai, dan pemilu yang berlangsung bebas, rahasia, jujur dan adil sesuai dengan ketentuan Undang-undang (UU), dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945,” begitu kata Jimmly melalui siaran pers yang diterima Republika, Kamis (8/2/2024).   

Menurut Jimmly, tak perlu sebenarnya para tokoh, maupun para akademisi di kampus-kampus menyampaikan terbuka atas penilaian yang saling menyalahkan terkait pelaksanaan Pemilu 2024 yang akan digelar pada 14 Februari 2024 ini. Apalagi dikatakan Jimmly, deklarasi terbuka itu sering disertai dengan penilaian, serta kesimpulan yang menarasikan ketakutan seluruh masyarakat tentang ramalan-ramalan keruntuhan demokrasi, maupun aksi-aksi people power penolakan hasil pemilu. 

“Tidak perlu ada nada-nada menyalahkan, berusaha memberikan penilaian negatif yang bersifat konklusif, apalagi dengan keyakinan yang kuat bahwa negara demokrasi kita akan runtuh, dan hasil pemilu dan pilpres akan ditolak oleh rakyat yang akan bergerak, sehingga akan terjadi krisis dan situasi chaos yang memecah belah bangsa,” ujar Jimmly.

Ketimbang para tokoh dan akademisi menggunakan narasi kengerian akan Pemilu 2024, Jimmly mengajak agar para tokoh-tokoh tersebut bersama-sama masyarakat sesama pemilik hak suara untuk turut andil dalam mengantarkan pilihannya masing-masing melalui pemungutan suara, pencoblosan 14 Februari 2024 mendatang.

 

Lihat halaman berikutnya >>>

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement