Senin 05 Feb 2024 10:39 WIB

Menilik Upacara 'Labuhan Keraton Ngayogyakarta' di Bantul, Seperti Apa?

Sebanyak 171.563 orang berkunjung ke kawasan wisata Pantai Parangtritis.

Seekor Hiu Tutul (Rhincodon typus) terdampar di Pantai Parangtritis, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (16/11/2023). Hiu Tutul ditemukan terdampar pada pukul 05.45 WIB oleh SAR Satlinmas Wilayah Operasi III Parangtritis dan selanjutnya akan diserahkan kepada BSKDA Yogyakarta untuk proses evakuasi bangkai.
Foto: Antara/Benny Mahendra
Seekor Hiu Tutul (Rhincodon typus) terdampar di Pantai Parangtritis, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (16/11/2023). Hiu Tutul ditemukan terdampar pada pukul 05.45 WIB oleh SAR Satlinmas Wilayah Operasi III Parangtritis dan selanjutnya akan diserahkan kepada BSKDA Yogyakarta untuk proses evakuasi bangkai.

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat sebanyak 199.352 orang telah mengunjungi berbagai destinasi wisata di daerah ini selama Januari 2024. "Kunjungan wisatawan ke Bantul selama Januari 2024 sebanyak 199.352 orang dengan perolehan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp1,9 miliar," kata Kasi Promosi dan Informasi Dinas Pariwisata Bantul Markus Purnomo Aji di Bantul, Senin, (5/2/2024).

Menurut dia, jumlah kunjungan wisatawan tersebut rinciannya adalah sebanyak 171.563 orang berkunjung ke kawasan wisata Pantai Parangtritis yang menjadi satu dengan gumuk pasir. "Kemudian jumlah pengunjung yang ke kawasan pantai wilayah barat sebanyak 26.442 orang, selanjutnya objek wisata Gua Selarong sebanyak 1.185 orang, dan objek wisata Gua Cerme sebanyak 162 orang," katanya.

Baca Juga

Dia mengatakan, dalam upaya meningkatkan kunjungan wisata ke Bantul, Dinas Pariwisata Bantul menggelar sejumlah event, di antaranya upacara adat tradisi "Labuhan Keraton Ngayogyakarta" di Cepuri Pantai Parangkusumo, pada Ahad (11/2/2024). Dia mengatakan, ritual upacara dilakukan di Pendopo Kecamatan Kretek dengan penyerahan sesaji dari Parentah Ageng Kraton Ngayogyakarta kepada Bupati Bantul.

Setelah itu uba rampe yang diantaranya berupa sembilan kain dengan corak dan warna khusus, uang, minyak koyoh, dupa, serta layon sekar yang merupakan sejumlah bunga yang sudah layu dan kering, dibawa ke Pendopo Parangkusumo untuk diserahkan kepada juru kunci di Parangkusumo, sekaligus didoakan.

Menurut dia, upacara tradisi tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena keselamatan yang telah diterima rakyat Kabupaten Bantul dan Ngayogyakarta "Selain itu juga untuk memohon kepada Tuhan YME agar Sultan, keraton, rakyat Yogyakarta diberi keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan hidup," katanya.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement