Sabtu 06 Jan 2024 13:28 WIB

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Potensi Cuaca Ekstrem di NTB

Warga diimbau tetap waspada terhadap dampak cuaca ekstrem.

Tim SAR Mataram gabungan saat mengevakuasi jasad korban tenggelam di bendungan Kabupaten Sumbawa, NTB, Selasa (26/12/2023).
Foto: ANTARA/HO-Humas SAR Mataram
Tim SAR Mataram gabungan saat mengevakuasi jasad korban tenggelam di bendungan Kabupaten Sumbawa, NTB, Selasa (26/12/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem tanggal 6-10 Januari 2024 di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). "Warga diimbau tetap waspada terhadap dampak cuaca ekstrem yang terjadi," kata Kepala Stasiun Zaenuddin Abdul Majid Lombok, Satria Topan Primadi dalam keterangan tertulis di Mataram, Sabtu (6/1/2024).

Adapun wilayah di NTB yang diprakirakan terjadi cuaca hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang adalah Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima. "Potensi cuaca ekstrem diprakirakan terjadi dari pagi hingga dini hari di sebagian wilayah di NTB," katanya.

Baca Juga

BMKG memonitor perkembangan kondisi cuaca di seluruh wilayah Indonesia saat ini menunjukkan signifikansi dinamika atmosfer yang berdampak pada peningkatan potensi curah hujan di wilayah Indonesia. Kondisi atmosfer menunjukkan beberapa fenomena yang mendukung pembentukan awan hujan yang cukup intensif dalam beberapa waktu ke depan diantaranya kondisi aktifnya Madden Jullian Oscillation (MJO) dan gelombang Rossby ekuator di wilayah NTB.

"Adanya sirkulasi di Laut Cina Selatan dan Samudra Hindia, serta kecepatan angin, dapat meningkatkan aktivitas konvektif dan dapat memaksimalkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah NTB untuk beberapa hari ke depan," katanya. Oleh karena itu, kata Satria, diharapkan pemerintah daerah (pemda) untuk melakukan sosialisasi dan meningkatkan edukasi masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.

Menurut Satria, upaya mitigasi bencana harus dilakukan dengan memangkas ranting pohon yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat. 

 

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement