Senin 11 Dec 2023 22:03 WIB

Angkat Masalah Lingkungan, Maharesigana UMM Juara Film Pendek Internasional

Film yang mereka produksi cukup berbeda dengan peserta lain.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq
Potret gedung kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Universitas yang dikenal dengan sebutan Kampus Putih ini baru saja mendapatkan predikat sebagai kampus swasta terbaik keenam se-Asia Tenggara menurut data yang dikeluarkan oleh AppliedHE.
Foto: Humas UMM
Potret gedung kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Universitas yang dikenal dengan sebutan Kampus Putih ini baru saja mendapatkan predikat sebagai kampus swasta terbaik keenam se-Asia Tenggara menurut data yang dikeluarkan oleh AppliedHE.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses membawa pulang juara tiga kategori video di ajang U-Dare 1.0 USK Global Award On Disaster Resilience di Universitas Syiah Kuala, Aceh. Kompetisi ini dilaksanakan pada akhir November lalu.

Berbekal film berjudul Hijau, mereka berhasil mengalahkan ratusan peserta lain dari berbagai negara. Salah satu produser, Fadhilah Azzahra Salsabila, menjelaskan, film itu bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga alam. "Apalagi belakangan banyak pohon yang ditebang secara liar dan mengakibatkan bencana banjir dan longsor," jelasnya.

Adapun lokasi pengambilan gambar kebanyakan dilakukan di Gunung Bromo. Lokasi ini dipilih karena bertepatan dengan terbakarnya lahan Bromo beberapa waktu lalu.

Timnya mengambil adegan penanaman bibit pohon untuk memperlihatkan proses reboisasi kepada masyarakat. Selain itu, tim juga menampilkan beberapa scene yang memperlihatkan situasi gunung Bromo yang terbakar habis.

 

Perempuan disapa Dhilla ini juga menceritakan, mereka turut mengambil gambar di salah satu rumah warga. Waktu pengambilan gambar memakan waktu sekitar dua hari dan proses editing selama satu minggu.

Film pendek timnya berdurasi enam menit. Meskipun terbilang lancar, tim cukup kesulitan mencari talent utama yakni anak kecil.

"Namun berkat berbagai koneksi dan kenalan dari Maharesigana, akhirnya ada satu anak yang cocok memerankannya,” kata Dhila.

Ia menegaskan, film yang mereka produksi cukup berbeda dengan peserta lain. Jika tim lain membuat video yang cenderung sebagai media edukasi, Maharesigana membuat film pendek yang memiliki alur cerita namun penuh dengan pesan yang bisa disampaikan.

Menurutnya, hal itu mungkin menjadi pertimbangan mereka bisa memenangkan penghargaan. Meskipun harus memeras keringat, ia dan tim merasa sangat bangga karena berbagai ilmu yang didapat di Maharesigana dapat disampaikan melalui sebuah film pendek.

Ilmu dan pengalaman yang dimiliki selama menjadi tim Maharesigana dapat disalurkan dengan baik di film itu. "Semoga bisa menjadi media informatif bagi masyarakat untuk selalu menjaga alam sehingga anak cucu kita bisa menikmatinya juga,” kata dia menambahkan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement