Jumat 17 Nov 2023 12:49 WIB

Densus 88 Antiteror Polri Ringkus Penjual Tahu Keliling di Kabupaten Bogor

H yang berjualan tahu keliling diciduk Densus bersama samurai dan buku-bukunya.

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Erik Purnama Putra
Personel Densus 88 Antieror Polri membawa terduga teroris ke dalam bus di Markas Polda Jawa Timur, Kota Surabaya, Kamis (18/3/2021).
Foto: ANTARA/Didik Suhartono
Personel Densus 88 Antieror Polri membawa terduga teroris ke dalam bus di Markas Polda Jawa Timur, Kota Surabaya, Kamis (18/3/2021).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menggeledah rumah kontrakan terduga teroris berinisial H (43 tahun), di Kampung Situ Leutik, Desa Dramaga, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Rabu (15/11/2023). H dalam kesehariannya bekerja sebagai penjual tahu keliling.

Ketua RT setempat, Iskandar, mengaku, diminta aparat untuk mendampingi penggeledahan di rumah terduga teroris tersebut pada Kamis (16/11/2023). Menurut dia, H yang jarang bersosialisasi dengan tetangga ditangkap sehari sebelumnya.

"Iya betul (sudah ditangkap). Kesehariannya jadi tukang tahu. Jarang (bersosialisasi), karena dia aksesnya langsung ke jalan besar dan jarang bergaul," kata Iskandar kepada wartawan di Kabupaten Bogor dikutip Jumat (17/11/2023).

Saat penggeledahan, kata Iskandar, istri dari terduga teroris tidak berada di rumah. Hal itu lantaran istri H sedang mengantar anaknya sekolah di sebuah pendidikan anak usia dini (PAUD) tak jauh dari kontrakan

Dari informasi yang diterimanya, H memiliki tujuh orang anak. Dua di antaranya sedang menuntut ilmu di pesantren, sedangkan sisanya masih kecil tinggal bersama kedua orang tuanya. "Belum (laporan ke saya). Justru nu wayahna deuh lapor KTP atau KK ya, diminfa sama saya (data diri) susah gampang," kata Iskandar.

Menurut dia, istri terduga teroris itu tidak turut dibawa oleh Densus 88 Antiteror Polri. Iskandar menyebut, ketika suaminya diringkus, sang istri menyaksikan penyerahan barang terkait aktivitas H.

"Istrinya mah nggak (dibawa), istrinya cuma penyerahan barang penangkapan kemaren barang barangnya. Di rumah tuh yang dibawa cuma samurai, pisau lipat, sama buku-buku," jelas Iskandar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement