Senin 13 Nov 2023 09:48 WIB

Mahasiswa Universitas BSI Raih Pendanaan Rp 140 Juta dari Google dan Kemendikbudristek 

Dua mahasiswa Universitas BSI ikut program Bangkit Academy, masuk 20 besar terbaik.

Dua mahasiswa Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) peserta studi independen di program Bangkit Academy 2023 berhasil masuk sebagai 20 tim lulusan terbaik.
Foto: Universitas Bina Sarana Informatika
Dua mahasiswa Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) peserta studi independen di program Bangkit Academy 2023 berhasil masuk sebagai 20 tim lulusan terbaik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dua mahasiswa Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) peserta studi independen di program Bangkit Academy 2023 berhasil masuk sebagai 20 tim lulusan terbaik. Kedua mahasiswa tersebut adalah Bhara Ayong Purna Mustika dari Program Studi Ilmu Komputer Universitas BSI Kampus Dewi Sartika B dan Saddam Satria Ardhi dari Program Studi Sistem Informasi Universitas BSI Kampus Kaliabang. 

Dalam proyek akhirnya, Bhara dan Saddam bersama dengan rekan satu timnya dari Universitas Gunadarma dan Institut Teknologi 10 November menciptakan aplikasi yang diberi nama Medicify. Medicify adalah aplikasi untuk meningkatkan aksesibilitas informasi kesehatan dan deteksi jenis obat bagi penyandang tunanetra.

Baca Juga

Sebagai final capstone project dari Program Bangkit, Medicify bersaing dengan proyek lain dari ratusan tim dan berhasil lolos seleksi sebagai top 68. Selanjutnya melalui proses penjurian dari para praktisi industri dan teknologi tekemuka di indonesia, Medicify berhasil masuk sebagai top 20. Atas prestasi tersebut proyek Medicify mendapat pendanaan dari Google dan Kemendikbudristek senilai 140 juta rupiah untuk melanjutkan pengembangan aplikasi.

Menurut Bhara, tujuan utama mengembangkan aplikasi Medicify adalah memberikan solusi bagi pengguna, terutama tunanetra atau orang dengan gangguan penglihatan rendah, untuk mengidentifikasi obat-obatan dengan mudah dan memperoleh informasi tentang obat tersebut.

“Dengan Medicify, pengguna dapat menggunakan kamera ponsel mereka untuk memindai obat-obatan yang mereka miliki. Setelah pemindaian dilakukan, aplikasi ini akan memberikan informasi tentang obat tersebut, termasuk nama obat, dosis yang dianjurkan, aturan pakai, dan indikasi penggunaan. Ini sangat membantu bagi orang dengan gangguan penglihatan yang mungkin mengalami kesulitan dalam membaca label obat atau memahami informasi yang terkandung dalam kemasan obat,” jelas Bhara dalam keterangan tertulis pada Senin (13/11/2023). 

Bhara juga berharap Medicify dapat terus membantu orang-orang yang membutuhkan, khususnya penyandang tunanetra dan gangguan penglihatan, agar dapat mengidentifikasi obat-obatan dengan lebih mudah. “Fitur lengkap yang dimiliki Medicify saat ini tentunya akan terus dikembangkan. Saat ini tim sedang melakukan proses development dan melakukan research market serta branding aplikasi kami,” ujar Bhara. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement