Selasa 07 Nov 2023 21:42 WIB

Pemkab Semarang Kaji Pemicu Kenaikan Harga Beras

Harga beras di Semarang naik.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Muhammad Hafil
cabe beras ilustrasi
Foto: republika
cabe beras ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,UNGARAN—Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Semarang masih mengkaji berbagai penyebab kenaikan harga komoditas pokok di tengah- tengah masyarakat.

Khususnya harga komoditas beras serta komoditas gula pasir --yang dalam beberapa pekan—terakhir juga turut melonjak di tingkat konsumen.

Baca Juga

Pengawas Perdagangan Diskumperindag Kabupaten Semarang, Saleh mengatakan, hingga saat ini harga komoditas beras kualitas sedang di pasaan masih berkisar Rp 13.500 per kilogram. Sedangkan untuk beras kualitas premium masih bertahan di harga Rp 15.000 per kilogram.

Sementara itu, untuk harga gula sejauh ini juga masih bertahan di level harga Rp 16.000 per kilogram. “Padahal harga gula pasir di tingkat konsumen, sebelumnya hanya berkisar Rp 13.000 – 13.500 per kilogram,” jelasnya, di Ungaran, Kabupaten Semarang, Selasa (7/11/2023).

Lebih rinci –kata Saleh-- untuk beras kualitas medium jenis IR-64 di tingkat konsumen sampai dengan hari ini mencapai Rp 13.500 per kilogram. Sedangkan beras IR kualitas premium IR-64 Rp Rp 14.667 per kilogram.

Harga beras kualitas premium jenis IR-64 ini, lanjutnya, sebenarnya sudah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan hari sebelumnya atau Senin (6/11/2023) kemarin.

“Namun penurunan harga ini memang belum terlalu signifikan, karena hanya turun dari Rp 14.833 per kilogram menjadi Rp 14.667 per kilogram atau tidak sampai Rp 200 per kilogram,” jelasnya.

Menindaklanjuti masih tingginya harga beras dan harga gula pasir di pasaran ini, lanjut Saleh, Diskumperindag Kabupaten Semarang masih melakukan kajian di lapangan untuk megetahui pemicunya.

Namun perkiraan sementara karena dipicu berkurangnya pasokan serta ketersediaan, mengingat kemarau tahun 2023 ini berlangsung lebih panjang. “Sehingga besar pengaruhnya terhadap produktivitas pertanian,” ungkapnya.

Ia juga menyebut, selain beras dan gula pasir, sejumlah komoditas strategis (komoditas penyumbang inflasi) juga mengalami kenaikan harga di tingkat konsumen, seperti berbagai jenis cabai.

“Meski per hari ini telah mengalami penurunan, namun untuk harga komoditas cabai tersebut masih berada di level yang tinggi, jika dibandingkan dengan harga pada kondisi normal,” ungkap Saleh.

Salah seorang pedagang di pasar Bandarjo, Ungaran, Aliyah (58) mengaku, harga komoditas cabai umumnya memang masih belum stabil. Karena fluktuasi harga bisa terjadi dalam hitungan hari.

Senin kemarin harga cabai memang masih mahal dan hari ini turun di kisaran Rp 3.000 – Rp 4.000 per kilogram, untuk berbagai jenis komoditas cabai. Namun besok harga masih bisa turun atau bahkan kembali naik.

“Hal seperti itu, akhir- akhir ini memang sering terjadi, khususnya untuk harga komoitas cabai ini,” katanya.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement