Kamis 19 Oct 2023 17:17 WIB

Tiktok Indonesia Lawan Penyebaran Misinformasi Jelang Pemilu 2024

Tiktok juga bekerja sama dengan AFP Indonesia, sebagai mitra pemeriksa fakta.

Tiktok Indonesia menggandeng Mafindo dan Perludem menjelang Pemilu 2024.
Foto: Republika.co.id
Tiktok Indonesia menggandeng Mafindo dan Perludem menjelang Pemilu 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tiktok berkolaborasi dengan sejumlah mitra pemeriksa fakta independen dan kredibel di Indonesia, sebagai bagian dari inisiatif proaktif untuk menjaga integritas pemilu. Tiktok pun menggandeng Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), dan Agence-France Presse (AFP) Indonesia.

Outreach and Partnerships, Trust and Safety Tiktok Indonesia, Anbar Jayadi menjelaskan, inisiatif tersebut sekaligus mempertegas komitmen Tiktok dalam melawan penyebaran misinformasi di platform untuk menyediakan ruang digital yang aman dan positif bagi semua pengguna.

"Kami percaya bahwa menciptakan lingkungan digital yang aman dan positif merupakan tanggung jawab semua pihak, termasuk Tiktok. Menjelang pelaksanaan Pemilu 2024, kami terus memperluas kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk mitra pemeriksa fakta sebagai bentuk upaya berkelanjutan kami dalam melawan misinformasi," kata Anbar di Jakarta, Kamis (19/10/2023).

Dia menjelaskan, kerja sama tersebut juga sejalan dengan komitmen perusahaan dalam memastikan agar Tiktok tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi para pengguna untuk terhubung dan berkreasi. "Kami harap kerja sama yang tercipta ini juga dapat mendorong semua orang untuk saling menjaga satu sama lain dari potensi misinformasi yang ada di ranah digital," jelas Anbar.

 

Dia menjelaskan, Mafindo dan Perludem akan menjadi bagian dari TikTok Election Hub, untuk dicantumkan sebagai tambahan sumber informasi kredibel bagi pengguna aplikasi yang ingin mengetahui hal terkait integritas sipil dan pemilihan umum. Ketua Komite Media Sosial Mafindo, Silma Agbas menjelaskan, misinformasi adalah isu industri, bukan semata isu salah satu platform semata.

"Melihat tendensinya, jumlah konten hoax akan meningkat menjelang Pemilu 2024, sehingga setiap pemangku kepentingan terkait perlu duduk bersama memikirkan solusi terbaik untuk menciptakan pengalaman berinternet yang positif dan menanggulangi penyebaran misinformasi bermuatan politik," kata Silma.

Peneliti Perludem Amalia Salabi menambahkan, belajar dari Pemilu 2014 dan 2019, sinergi yang baik, adalah kunci untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran misinformasi. "Kami percaya kolaborasi dengan TikTok dapat membantu menyehatkan ekosistem informasi serta melindungi pemilih dari narasi yang membahayakan selama tahapan Pemilu 2024," ujar Amalia.

Tiktok juga bekerja sama dengan AFP, termasuk AFP Indonesia, sebagai mitra pemeriksa fakta. Kemitraan tersebut memungkinkan Tiktok untuk mengidentifikasi potensi misinformasi. Penilaian dari pemeriksa fakta memberikan masukan berharga sehingga Tiktok dapat mengambil tindakan yang tepat sesuai dengan panduan komunitas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement