Senin 16 Oct 2023 18:00 WIB

BMKG Jelaskan Fenomena Panas Menyengat dan Kapan Peralihan dari Kemarau ke Hujan

Pada November, sebagian wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki masa peralihan.

Umat Islam melaksanakan shalat istisqo atau shalat meminta hujan di lapangan Desa Undaan Kidul, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (13/10/2023). Shalat tersebut untuk meminta kepada Allah SWT agar diturunkan hujan sehingga kemarau panjang yang melanda beberapa wilayah di Indonesia segera berakhir.
Foto: ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho
Umat Islam melaksanakan shalat istisqo atau shalat meminta hujan di lapangan Desa Undaan Kidul, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (13/10/2023). Shalat tersebut untuk meminta kepada Allah SWT agar diturunkan hujan sehingga kemarau panjang yang melanda beberapa wilayah di Indonesia segera berakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Ronggo Astungkoro

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, fenomena panas terik yang terjadi di Indonesia, khususnya yang berada di wilayah Selatan ekuator seperti Jawa hingga Nusa Tenggara, masih dapat berlangsung dalam periode Oktober ini. Penurunan suhu udara di wilayah tersebut diprediksi baru akan terjadi pada November ketika sudah memasuki musim pancaroba.

Baca Juga

“Kondisi fenomena panas terik ini diprediksikan masih dapat berlangsung dalam periode Oktober ini, mengingat kondisi cuaca cerah dan minimnya pertumbuhan awan masih cukup mendominasi pada siang hari,” jelas Plt Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, kepada Republika, Senin (16/10/2023).

Andri mengatakan, sebagian wilayah Indonesia diprediksi baru akan mulai memasuki masa peralihan atau pancaroba pada November. Dengan kondisi itu, maka potensi hujan mulai muncul dan akan berdampak pada penurunan suhu udara di wilayah-wilayah tersebut, termasuk di wilayah Jabodetabek. 

“Pada bulan November, sebagian wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki masa peralihan atau pancaroba sehingga potensi hujan mulai muncul dan akan berdampak pada penurunan suhu udara di wilayah tersebut,” kata dia.

Menurut Andri, secara umum, fenomena suhu panas terik terjadi karena dipicu oleh beberapa kondisi dinamika atmosfer. Pertama, saat ini kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di Jawa hingga Nusa Tenggara, didominasi oleh kondisi cuaca yang cerah. Di wilayah tersebut juga sangat minim tingkat pertumbuhan awan terjadi, terutama pada siang hari. Tingkat kelembapan udara pun rendah. 

“Kondisi ini tentunya menyebabkan penyinaran matahari pada siang hari ke permukaan bumi tidak mengalami hambatan signifikan oleh awan di atmosfer. Sehingga suhu pada siang hari di luar ruangan terasa sangat terik sebagai dampak dari penyinaran matahari yang intens,” jelas Andri. 

Dia menjelaskan, saat ini sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di Selatan ekuator, masih mengalami musim kemarau dan sebagian lainnya akan mulai memasuki periode peralihan musim pada periode Oktober- November. Sebab itu, kata dia, kondisi cuaca cerah masih cukup mendominasi pada siang hari.

Kondisi dinamika atmosfer berikutnya, kata dia, adalah posisi semu matahari yang masih menunjukkan pergerakan ke arah Selatan ekuator. Itu berarti, sebagian wilayah Indonesia di Selatan ekuator, termasuk wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara, mendapatkan pengaruh dampak penyinaran matahari yang relatif lebih intens dibandingkan wilayah lainnya. 

“Di mana pemanasan sinar matahari cukup optimal terjadi pada pagi menjelang siang dan pada siang hari,” jelas dia.

Namun demikian, fenomena astronomis tersebut Andri katakan tidak berdiri sendiri dalam mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis atau ekstrem di permukaan bumi. Faktor-faktor lain seperti kecepatan angin, tutupan awan, dan tingkat kelembapan udara memiliki dampak yang lebih besar juga terhadap kondisi suhu terik di suatu wilayah seperti yang terjadi saat ini di beberapa wilayah Indonesia.

In Picture: Dampak Kemarau Bagi Petani Morowali

photo
 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement