Ahad 10 Sep 2023 10:46 WIB

Dinas Ketahanan Pangan Sumut: Harga GKP Naik karena El Nino

Pupuk dan upah buruh yang naik juga menyebabkan kenaikan harga GKP

Petsni menjemur padi (ilustrasi). Pemerintah Sumatra Utara menyebut kenaikan harga gabah kering panen (GKP) di wilayahnya terjadi karena El Nino.
Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Petsni menjemur padi (ilustrasi). Pemerintah Sumatra Utara menyebut kenaikan harga gabah kering panen (GKP) di wilayahnya terjadi karena El Nino.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatra Utara, Muhammad Juwaini, mengatakan kenaikan harga gabah kering panen (GKP) di wilayahnya terjadi karena El Nino. Selain itu, dia melanjutkan aspek lain, seperti pupuk, pestisida dan upah kerja pun semakin mahal.

"Kemungkinan naik karena terdampak gagal panen di Jawa akibat El Nino," ujar Juwaini di Medan, Sabtu (9/9/2023).

Baca Juga

Pada Agustus 2023, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga GKP Sumut baik di tingkat petani maupun penggilingan tembus Rp 6.000 per kilogram, yakni rata-rata Rp 6.007 per kilogram untuk GKP di petani dan Rp 6.162 per kilogram.

Untuk GKP di tingkat petani, BPS bahkan menemukan yang berharga Rp 7.200 per kilogram, lalu harga termahal GKP penggilingan Rp 7.400 per kilogram.

Padahal, pembelian pemerintah (HPP) untuk GKP di petani adalah Rp 5.000 per kilogram dan di penggilingan Rp 5.100 per kilogram.

Meski demikian, Juwaini memastikan produksi GKP Sumut aman. Sepanjang Januari sampai Agustus 2023, produksi GKP Sumut mencapai 2.691.107 ton yang setelah diolah menjadi 1.714.235 ton beras. Produksi pada periode delapan bulan itu membuat Sumut surplus beras 321.546 ton lantaran kebutuhannya 1.392.689 ton.

"Artinya dari sisi produksi, Sumut tidak terganggu," kata Juwaini.

Kenaikan harga gabah berdampak pada mendakinya harga beras. Juwaini meyakini, tingginya harga tersebut membuat pemerintah melalui Perum Bulog Kanwil Sumut kesulitan dalam menyerap gabah dan beras dari petani.

Dia memisalkan, beras yang harga pembelian pemerintah (HPP) yakni Rp 9.950 per kilogram dijual petani dengan harga lebih dari Rp 10 ribu per kilogram.

"Jadi susah bagi Bulog membelinya. Kalau di atas HPP, mereka mengambil skema komersial," tutur Juwaini.

Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara mengakui, tingginya harga yang ditetapkan petani menjadi salah satu kendala penyerapan beras untuk cadangan beras pemerintah.

Sampai minggu pertama September 2023, Perum Bulog Kanwil Sumut baru menyerap sekitar 3.600 ton beras dari petani, dengan hanya 350 ton di antaranya yang dibeli dengan harga HPP. Sisanya didatangkan dengan skema komersial. 

Adapun target penyerapan beras petani yang ditetapkan Bulog Sumut untuk tahun 2023 adalah 27 ribu ton. 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement