Senin 19 Jun 2023 06:38 WIB

Mengumandangkan Takbiran di 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Takbiran di sepuluh hari pertama Dzulhijjah disebut kurang familiar.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Muhammad Hafil
  Mengumandangkan Takbiran di Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah. Foto:  Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI) KH Dr Ahmad Kusyairi Suhail
Foto: Umar Mukhtar/Republika
Mengumandangkan Takbiran di Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah. Foto: Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI) KH Dr Ahmad Kusyairi Suhail

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : KH. Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA

(Dosen FDI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ketua umum IKADI dan Pengurus Ponpes YAPIDH Bekasi)

Baca Juga

Salah satu amalan yang kurang familiar dan banyak dilupakan oleh sebagian besar umat Islam, adalah mengumandangkan takbiran di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Takbir yang secara sosiologis, dalam bahasa masyarakat kita populer dengan istilah takbiran adalah ibadah yang sangat dianjurkan untuk dikumandangkan berhubungan dengan dua momentum besar bagi kaum muslimin, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Takbiran Idul Fitri

Untuk hari raya Idul Fitri, setelah kaum muslimin menyelesaikan lengkapnya ibadah puasa Ramadhan, Allah ta'ala memerintahkan untuk mengagungkan asma-Nya dengan takbiran sekaligus sebagai wujud syukur atas segala nikmat dari-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakbir (mengagungkan) Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS Al-Baqarah : 185).

Menurut Imam Qurthubi, bahwa ayat ini (terdapat dalil) perintah bertakbir di akhir Ramadhan menurut pendapat jumhur (kebanyakan) ulama tafsir (Tafsir Al Jaami' Li Ahkaami'l Qur'an  atau populer dengan nama Tafsir Al Qurthubi , II/205).

Berarti takbiran dimulai di malam hari raya Idul Fitri, atau tepatnya sejak terbenam matahari bulan Ramadhan (maghrib) dan setelah dipastikan terlihat (rukyah) bulan Syawwal, hingga imam melakukan takbiratul ihram shalat Idul Fitri. Setelah itu sudah tidak diperintahkan takbiran lagi (Lihat: Fathul Qarib Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Qasim As Syafi'i, h. 227-228).

Dan takbiran boleh dilakukan sendiri-sendiri, dan boleh juga dilaksanakan secara berjama'ah. Imam Qurthubi mengutip ucapan Imam As Syafi'i ketika melihat bulan ( rukyah hilal) Syawwal, "Aku senang masyarakat melakukan takbiran jamaa'atan wa furooda, berjama'ah maupun sendiri-sendiri (Lihat: Tafsir Al Qurthubi, II/205).

Takbir atau takbiran adalah manifestasi ketundukan dan kepasrahan diri seorang muslim kepada Allah yang Maha Besar. Takbir merupakan pengakuan jujur ketidakberdayaan kita sebagai makhluk yang lemah kepada Sang Khaliq, Allah, yang Maha Kuat. Kumandang takbir juga merupakan pernyataan dan deklarasi ego kita sebagai manusia yang kerdil di hadapan keMahaBesaran Allah Rabbul 'Alamin.

Dengan mengumandangkan takbir, karat-karat kesombongan, kepongahan jiwa dan arogansi kita sebagai manusia, dapat terkikis habis. Dengan takbir yang menggelegar dibarengi kekhusyu'an hati, diharapkan dapat melahirkan kebugaran spiritual dan memunculkan sikap tawadhu dan rendah hati.

Ada beberapa pilihan lafazh takbir, di antaranya:

اللهُ اكبَرْ, اللهُ اكبَرْ اللهُ اكبَرْ لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر, اللهُ اكبَرُوَِللهِ الحَمْد

Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamd.

Artinya: Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tidak ada tuhan melainkan Allah, dan Allah maha besar, Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.

Takbiran di Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah Amalan Generasi Terbaik

Lalu bagaimana dengan Takbiran di Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah dan hari raya Idul Adha?

Masalah memperbanyak takbir atau takbiran di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sesungguhnya bukanlah masalah baru. Tapi, sudah disinggung oleh banyak para ulama dalam kitab-kitab klasik. Sehingga, ini merupakan amal ibadah, dan tidak perlu meragukan orisinalitas dan vailiditasnya. Bahkan, ternyata hal ini merupakan amalan generasi terbaik; para sahabat dan tabi'in dan tabi't tabi'in.

Dasar pijakannya, di antaranya firman Allah ta'ala:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

"Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan”(QS. Al Hajj: 28).

Ayyam ma’lumaat menurut salah satu penafsiran adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Pendapat ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama di antaranya Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhum, Hasan Al Bashri, ‘Atho’, Mujahid, ‘Ikrimah, Qotadah dan An Nakho’i, termasuk pula pendapat Abu Hanifah, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad (pendapat yang masyhur dari beliau) rahimahumullah (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir III/429) dan lihat pula perkataan Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab _Lathoif Al Ma’arif_, hal. 462 dan 471.

Imam Bukhari menyebutkan:

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا. وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ

Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah. (HR Bukhari secara mu'allaq (tanpa sanad), pada Bab “Keutamaan Beramal di Hari Tasyriq”).

Imam Ibnu Katsir dalam kitab _Tafsir_ nya (III/429) menyebutkan hadits Imam Ahmad dengan.sanad dari sahabat Ibnu Umar RA, berkata, Rasulullah SAW bersabda:

 ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب  إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر، فأكثروا فيهن من التهليل  التكبير والتحميد

Tidak ada hari-hari yang amal (shalih) lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintai oleh-Nya melebihi amal (shalih) yang dilakukan di hari-hari sepuluh (pertama Dzulhijjah) ini. Maka, perbanyaklah kalian di hari-hari sepuluh pertama Dzulhijjah, tahlil, takbir dan tahmid (HR Ahmad dalam Musnadnya, no. 5446, dan menurut Syekh Ahmad Syakir isnadnya shahih).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement