Jumat 16 Jun 2023 16:35 WIB

Tradisi Wisuda TK, SD, SMP, SMA, ini Pendapat Ahli Sosiologi Univ Muhammadiyah Malang

Wisuda selain perguruan tinggi merupakan kecenderungan imitasi.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Erdy Nasrul
Wisuda sekolah TK-SMA (ilustrasi).
Foto: ANTARA/Fransisco Carolio
Wisuda sekolah TK-SMA (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Pelaksanaan wisuda di tingkat SMA hingga TK menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Situasi ini juga turut memunculkan pandangan tersendiri bagi sosiolog dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Vina Salviana Darvina Soedarwo.

Menurut Vina, kondisi tersebut jika dikaitkan dengan sosiologi ada yang disebut sebuah interaksi simbolik. Interaksi ini terjadi karena terdapat interpretasi atas simbol-simbol. "Nah, simbol-simbol itu biasanya bentuk bahasa, tetapi simbol itu juga bisa seperti kita melihat atribut gitu," kata Vina saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (16/6/2023).

Baca Juga

Ketika orang sudah selesai studinya dari perguruan tinggi, atribut-atribut yang digunakan wisuda, seperti toga dan sebagainya melambangkan dia sudah selesai di pendidikan tinggi. Hal ini berarti atribut itu melekat pada wisudawan yang menggunakan toga. Menurut Vina, cara ini menunjukkan bahwa statusnya sudah naik menjadi high educated. 

Vina menilai wisuda di ranah perguruan tinggi tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi negara-negara lainnya. Situasi ini membuktikan atribut dalam wisuda sama-sama ditunjukkan bahwa ada perubahan status pada seseorang. Jika dilihat dari stratifikasi sosial, berarti dia sudah dalam ukuran berpendidikan tinggi.

"Lalu, mengapa kemudian itu muncul di SMA, SMP, SD bahkan TK? Ini saya rasa sebagai bentuk imitasi. Imitasi dalam konsep sosiologi itu meniru yang high education," katanya.

Menurut Vina, imitasi itu selanjutnya diadopsi di SMA lalu terus ke tingkat TK. Kondisi ini menunjukkan terjadi imitasi yang luar biasa mengenai perayaan atas perubahan status pendidikan yang lebih tinggi.

Di sisi lain, Vina juga menyinggung perihal makna pendidikan dasar di Indonesia sesungguhnya hanya sampai SMP. Artinya, pendidikan sembilan tahun hingga tingkat SMP merupakan hal wajib yang perlu dilaksanakan masyarakat. Merujuk nilai wajib tersebut, Vina menilai tidak perlu ada wisuda di tingkat pendidikan dasar karena stratanya terlalu sederhana.

Dibandingkan pendidikan dasar, Vina justru tidak mempermasalahkan apabila wisuda dilaksanakan di tingkat SMA. Namun, pelaksanaannya mungkin diharapkan agar atributnya tidak sama dengan perguruan tinggi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement