Kamis 15 Jun 2023 06:08 WIB

Pj Heru Budi Harusnya Sikapi Serius Kualitas Udara tidak Sehat Jakarta, Bukan Bercanda

Kualitas udara di Jakarta belakangan ini terukur dalam kondisi tidak sehat.

Penjabat (Pj) Gubernur Provinsi DKI Jakarta Heru Budi Hartono. Candaan Heru soal kualitas udara Jakarta yang tidak sehat menuai kritik. (ilustrasi)
Foto: Republika/Haura Hafizhah
Penjabat (Pj) Gubernur Provinsi DKI Jakarta Heru Budi Hartono. Candaan Heru soal kualitas udara Jakarta yang tidak sehat menuai kritik. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Haura Hafizhah, Fergi Nadira B

Kualitas udara di Indonesia terutama kawasan Jabodetabek sedang tidak sehat pada pekan ini. Aplikasi pemantau kualitas udara, Nafas Indonesia, merekam skala kualitas udara yang dihirup setiap jamnya di beberapa wilayah di Indonesia.

Baca Juga

Pada Senin (12/6/2023) misalnya, dari pukul 12 pagi hingga hingga 11.59 malam, kualitas udara di Jabodetabek masuk kategori tidak sehat. Wilayah Tangerang Selatan, Tangerang, dan Kota Bekasi mengalami udara yang tidak sehat setiap jamnya seharian kemarin.

Pada Selasa (13/6/2023) hingga jam delapan pagi dari semalam, Kabupaten Bekasi masuk zona merah sebagai wilayah dengan kualitas udara yang bahaya untuk dihirup. Kemudian disusul Kota Depok yang setiap jamnya memiliki kualitas udara yang buruk.

"Jabodetabek kembali diselimuti polusi. Tangerang, Tangsel, Depok yang paling berdampak dengan level PM 2.5 lebih tinggi 20x dari anjuran WHO 5 ug/m3," kata Nafas Indonesia di akun twitter @nafasidn dikutip Republika di Jakarta pada Selasa (13/6/2023).

Particulate matter (PM) 2.5 adalah partikel padat polusi udara berukuran kurang dari 2,5 mikrometer atau 36x lebih kecil dari diameter sebutir pasir. Ukuran PM 2.5 yang sangat kecil membuat partikel polusi ini tidak dapat disaring oleh tubuh kita.

“Polusi PM 2.5 dapat menimbulkan beragam masalah kesehatan seperti kelahiran prematur, asma, batuk dan sesak napas, jantung koroner diabetes, hingga kanker paru-paru," kata lembaga Nafas Indonesia.

Sayangnya, kualitas udara yang buruk itu direspons dengan candaan oleh Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono. Heru terkesan tidak serius merespons pertanyaan wartawan dengan jawaban sekadarnya.

"Ya saya tiup saja," katanya sambil memeragakan mulutnya yang sedang meniup kepada wartawan di kawasan Jakarta Selatan pada Senin (12/6/2023).

Menurut Heru, solusi permasalahan polusi udara yang diakibatkan dari pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor adalah dengan mempercepat kendaraan listrik.  "Ya dipercepat motor listrik, mobil listrik, terus bahan bakarnya yang memang memenuhi syarat. Ya harus semua pihak mengikuti dong," kata Heru.

Candaan Heru Budi atas kualitas udara Ibu Kota yang buruk itu pun sempat viral di media sosia. Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Justin Adrian Untayana, mengatakan Heru Budi seharusnya tidak menganggap remeh kondisi udara yang jelek di Jakarta saat ini.

"Itu saya kira menyakiti masyarakat terutama orang tua juga kan. Itu bukan suatu hal yang bisa dipandang remeh," kata Justin kepada wartawan pada Selasa (13/6/2023).

Kemudian, ia melanjutkan yang pasti dengan adanya kualitas udara yang buruk bisa membuat anak-anak bahkan Manusia Usia Lanjut (Manula) terkena penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan sebagainya.

"Saya kira kata-kata seperti itu jangan pernah diucapkan lagi karena ini masalah kesehatan dan keselamatan warga dan itu tidak murah," kata dia.

Justin menyarankan Heru Budi untuk memiliki langkah-langkah untuk mengatasi kualitas udara yang buruk di DKI Jakarta. Seperti mengendalikan jumlah kendaraan bermotor, menetapkan tarif parkir yang tinggi, hingga menindak kawasan industri yang memproduksi polusi di ambang batas.

"Ya saya kira kata-kata itu tidak boleh keluar lagi kalau tidak ada langkah pasti yang sudah dilakukan," kata dia.

 

In Picture: Kualitas Udara di Jakarta Hari Ini, Terburuk Ketiga di Dunia

photo
 
 
 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement