Senin 05 Jun 2023 16:23 WIB

DPRD Soroti Ruang Terbuka Hijau di Kota Bogor Masih Minim

Pada hari jadi ke-541 tahun, ruang terbuka hijau di Kota Bogor semakin berkurang.

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Erik Purnama Putra
Sejumlah warga beraktivitas dan berolahraga di Alun-Alun Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (12/7/2022).
Foto: ANTARA/Arif Firmansyah
Sejumlah warga beraktivitas dan berolahraga di Alun-Alun Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (12/7/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Kota Bogor merayakan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-541 tahun pada 3 Juni 2023. Di tengah berubahnya Kota Bogor akibat pembangunan masif dibandingkan dengan masa lampau, DPRD Kota Bogor menyoroti minimnya ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Hujan.

Wakil Ketua I DPRD Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengatakan, Kota Bogor pada masa lalu masih dipenuhi rerimbunan pohon kenari di sepanjang jalanan kota yang masih sepi dari arus kendaraan bermotor. Saat ini, Bogor telah mengalami banyak perubahan  seiring dinamika kehidupan masyarakatnya yang terus berkembang.

"Hal yang perlu penanganan lebih seksama adalah semakin minimnya lahan terbuka hijau di Kota Bogor, terutama lahan perkebunan dan persawahan yang ada di Kota Bogor," kata Jenal dalam Rapat Paripurna HJB di kantor DPRD Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (3/6/2023).

Menurut Jenal, hal itu merupakan konsekuensi dari meningkatnya pembangunan yang ada di Kota Bogor. Meskipun, sambung dia, pembangunan fisik tetap dilaksanakan dengan memperhatikan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), mengutamakan analisis dampak lingkungan, serta dengan tetap memperhatikan akses RTH untuk keasrian kota dan kelestarian lingkungan hidup.

Saat ini, sambung dia, sudah banyak perbaikan terhadap fasilitas dan akses trotoar bagi pejalan kaki, serta pembangunan taman-taman kota, berikut juga Alun-Alun Kota Bogor. Namun, menurut Jenal, masih perlu diperhatikan bahwa perbaikan fasilitas, akses trotoar, hingga pembangunan taman dan alun-alun masih terpusat di pusat Kota Bogor.

"Sedangkan wilayah lainnya masih belum tersentuh. Namun demikian, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor sedang berupaya untuk wilayah yang lainnya," kata politikus Partai Gerindra itu.

Di samping itu, lanjut Jenal, Kota Bogor menjadi salah satu magnet di kawasan Jabodetabek, sehingga membawa berbagai konsekuensi terhadap berbagai aspek sebagaimana umumnya situasi perkotaan. Hal itu tentunya memberikan pengaruh terhadap perkembangan perekonomian serta pembangunan di Kota Bogor, khususnya di sektor jasa.

Dia menyebutkan, pengaruh tersebut berupa hal positif maupun dampak permasalahan yang perlu penanganan serius. Salah satunya, ialah kemacetan karena minim kesadaran tertib berlalu lintas dari masyarakat.

"Juga dipengaruhi oleh diperbaikinya sarana jembatan dan ruas jalan, penyalahgunaan fasilitas jalan, kondisi fisik jalan masih banyak yang kurang memadai atau rusak, masih minimnya fasilitas gedung parkir khususnya di jalur rawan kemacetan serta timbulnya titik-titik kemacetan baru, sehingga perlu menjadi perhatian kita bersama," jelasnya.

Di bidang kebersihan, kata Jenal, pemahaman budaya bersih pada masyarakat masih sangat minim. Untuk itu, perlu peningkatan sarana dan prasarana kebersihan serta program sosialisasi kepada masyarakat untuk menciptakan budaya hidup bersih kepada masyarakat.

"Selain hal tersebut di atas, tentunya masih banyak permasalahan-permasalahan yang harus dihadapi untuk perbaikan pembangunan Kota Bogor ke depan. Seperti permasalahan dibidang pendidikan, kesehatan, sosial budaya dan ketenagakerjaan dan bangunan peninggalan masa lampau yang banyak tidak terurus," ucap Zaenal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement