Senin 15 May 2023 02:55 WIB

Pemkab Kolaka Utara Rujuk 2 Anak ke RS Gerak Cepat Tangani Stunting

Kolaka Utara berkomitmen memerangi stunting.

Ilustrasi antre mendapatkan bantuan pangan cegah stunting.
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Ilustrasi antre mendapatkan bantuan pangan cegah stunting.

REPUBLIKA.CO.ID, KENDARI -- Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra) merujuk dua orang anak ke tim pakar yang ada di Rumah Sakit Djafar Harunsebagai gerakcepatpenanganan stunting di kabupaten itu.

Kepala DPPKB Kolaka Utara Hasrayani melalui keterangan resminya di Kendari, Minggu, mengatakan kedua anak tersebut tidak mengalami peningkatan signifikan dari berat badannya karena jarang makan.

Baca Juga

"Ini adalah kegiatan BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional). Selama dua bulan terakhir ini kita fokus penanganan stuntingdan sekarang kita bergerak cepat untuk penanganan stunting di Kolaka Utara dengan melakukan pemenuhan gizi untuk anak-anak yang teridentifikasi stuntingdan membawa mereka ke rumah sakit untuk memeriksa langsung kondisi anak," katanya.

Ia mengungkapkan kedua anak tersebut dijemput di Puskesmas Mala-mala, Kecamatan Kodeoha, yang didampingi oleh kader desa masing-masing.

"Kedua anak tersebut selama dua bulan kita intervensinamun tidak ada peningkatan, sehingga dirujuk langsung ke tim pakar agar ke depan anak tersebut sudah ada peningkatan berat badan," ujarnya.

Ia mengatakan angka stunting Kolaka Utara 24,4 persen dengan 34 anak teridentifikasi stunting. Dengan berbagai upaya tersebut pihaknya berharap dapat menekan angka stunting.

Hasrayani menjelaskan penyebab stunting adalah kekurangan gizi kronis yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain kekurangan gizi selama masa kehamilan yang mempengaruhi pertumbuhan janin di dalam rahim.

"Kurangnya gizi pada anak selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari masa kehamilan hingga usia dua tahun, merupakan periode kritis dalam perkembangan otak dan tubuh. Penyakit infeksi yang seringseperti diare dan infeksi saluran napas dapat mengganggu penyerapan nutrisi dan memperburuk kondisi gizi," katanya.

Lingkungan yang tidak sehat, lanjutnya, seperti sanitasi yang buruk, kebersihan yang kurang, dan air minum yang tidak bersih, juga dapat meningkatkan risiko infeksi dan mengganggu penyerapan nutrisi.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement