Jumat 28 Apr 2023 04:26 WIB

Bepergian ke Tempat Endemis Malaria, Dokter: Konsumsi Obat Dulu

Konsumsi obat anti malaria direkomendasikan saat bepergian ke daerah endemis.

Konsumsi obat anti malaria direkomendasikan saat bepergian ke daerah endemis.
Foto: www.pixabay.com
Konsumsi obat anti malaria direkomendasikan saat bepergian ke daerah endemis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter Spesialis Anak dr Inke Nadia Diniyanti Lubis menganjurkan para pelaku perjalanan untuk mengonsumsi obat anti malaria sebelum bepergian ke daerah endemis malaria. "Konsumsi obat anti malaria bagi pelaku perjalanan ke daerah endemis sangat direkomendasikan untuk mencegah risiko penularan malaria," kata Inke dalam diskusi memperingati Hari Malaria Sedunia yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis (27/4/2023).

Inke menyebutkan, saat ini hanya ada satu obat yang direkomendasikan untuk dikonsumsi, yaitu Doxycycline yang bisa digunakan oleh semua orang di atas usia delapan tahun. Ia menambahkan, penggunaan obat ini harus dilakukan dua hari sebelum perjalanan, ketika berada di tujuan, serta 28 hari setelah perjalanan untuk memastikan tidak ada parasit malaria yang menetap di tubuh.

Baca Juga

"Jadi kalau perjalanannya satu minggu, maka kita harus konsumsi obat ini selama lima minggu," ujar dokter yang menyelesaikan pendidikan S3 di London School of Hygiene and Tropical Medicine pada tahun 2018 lalu itu.

Inke mengungkapkan, durasi yang lama tersebut disebabkan oleh parasit malaria yang mengendap terlebih dahulu di dalam hati manusia selama empat minggu sebelum akhirnya keluar dan menyerang pembuluh darah. Dia pun menjelaskan malaria bisa kambuh sewaktu-waktu bila proses pengobatan tidak selesai terutama pada malaria yang disebabkan oleh parasit Plasmodium vivax dan ovale.

"Saat ini pilihan obat untuk pencegahan bagi pelaku perjalanan hanya satu jenis, terdapat jenis lain tapi tidak tersedia di Indonesia. Penanganannya pun berbeda dengan pasien yang sudah terinfeksi penyakit malaria," katanya.

Dokter yang merupakan dosen ilmu kesehatan anak di Universitas Sumatera Utara (USU) ini menjelaskan perbedaan penanganan tersebut disebabkan oleh jenis obat yang berbeda. Selain itu, beberapa jenis obat juga dianggap tidak efektif lagi karena parasit malaria telah beradaptasi terhadap berbagai macam obat dan melakukan mutasi genetik. 

Jika sudah terkena malaria, maka pengobatan malaria yang efektif adalah dengan metode Artemisinin Based Combination Therapy (ACT), sambungnya. Obat kombinasi tersebut efektif dan mencegah timbulnya resistensi. Kombinasi yang digunakan adalah Dihidroartemisinin dan Piperakuin (DHP) sebagai pengobatan malaria tahap pertama selama tiga hari lalu disambung dengan Primakuin selama 14 hari.

Inke mengatakan, kepada pelaku perjalanan agar mengetahui persiapan sebelum pergi ke daerah endemis malaria dengan mengonsumsi obat anti malaria serta melindungi diri dengan meminimalisir kontak dengan nyamuk.

"Tidak hanya deteksi dini dan perlindungan, masyarakat juga harus menjaga diri dengan menciptakan lingkungan yang sehat," tutupnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement