Senin 10 Apr 2023 09:46 WIB

KAJ: Mafia dan Flexing Cederai Cita-Cita Kemerdekaan Dalam Momen Paskah

Mafia dan flexing berlawanan dengan watak dasar bangsa Indonesia.

Uskup Keuskupan Agung Jakarta Uskup Ignatius Kardinal Suharyo (tengah). Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menegaskan bahwa fenomena yang terjadi di masa kini seperti adanya mafia hingga memamerkan kekayaan atau flexing, mencederai cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Uskup Keuskupan Agung Jakarta Uskup Ignatius Kardinal Suharyo (tengah). Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menegaskan bahwa fenomena yang terjadi di masa kini seperti adanya mafia hingga memamerkan kekayaan atau flexing, mencederai cita-cita kemerdekaan Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menegaskan bahwa fenomena yang terjadi di masa kini seperti adanya mafia hingga memamerkan kekayaan atau flexing, mencederai cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Kardinal Ignasius Suharyo di Gereja Katedral Jakarta, Ahad (9/4/2023), mengatakan, kata-kata asing yang masuk ke perbendaharaan bahasa Indonesia tersebut bukan sekedar kata, tapi watak yang ada di baliknya. Hal ini menjadi perhatian KAJ, di mana pada perayaan Paskah 2023 mengusung tema "Partisipasi Mewujudkan Kesejahteraan Bersama."

Baca Juga

"Mafia itu terkenal di Italia, itu pasti bukan bahasa Indonesia. Tapi sekarang kita mendengar macam-macam kata yang dihubungkan dengan mafia. Yang terakhir, mafia pajak, mafia peradilan, mafia segala macam mafia, itu langsung berlawanan dengan kesejahteraan bersama," kata Suharyo.

Suharyo juga menekankan maraknya fenomena para pemimpin dan pejabat ditangkap, karena terjerat kasus korupsi. Menurut dia, ini justru mencederai cita-cita kemerdekaan.

"Saya mengatakan ini dengan sangat serius, mencederai cita-cita kemerdekaan. Jadi bukan hanya korupsi, korupsi itu jalannya, tetapi akibatnya adalah cederanya martabat bangsa Indonesia," kata dia.

Hal ini ditanggapi serius oleh KAJ. Sehingga dalam momentum Paskah, pihaknya mengajak umat Katolik menyadari perkara-perkara seperti itu.

"Itu sebetulnya berlawanan dengan watak dasar bangsa Indonesia, karena watak dasar bangsa Indonesia itu, sejauh tidak dirusak oleh arus-arus seperti itu, adalah berusaha terus (keutamaannya untuk mengusahakan kesejahteraan bersama lewat yang namanya solidaritas," kata Suharyo.

Oleh karenanya ia mengajak umat Katolik tidak hanya sekedar merayakan Paskah hanya dengan beribadah, tetapi mewujudkannya dalam realitas seperti kutipan firman Tuhan, "Daripada menyesali kegelapan, lebih baik menyalakan lilin-lilin kecil."

"Itu yang kami artikan untuk tema Paskah tahun ini. Partisipasi mewujudkan kesejahteraan bersama. Jadi tidak hanya merayakan Paskah, tetapi menjadi manusia-manusia Paskah," ujar dia.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement