Selasa 04 Apr 2023 13:36 WIB

Demokrat Persilakan Anas Urbaningrum 'Buka-bukaan'

Demokrat mengaku pihaknya yang justru dirugikan karena elektabilitas dirusak Anas.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Agus raharjo
Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat (PD) Herzaky Mahendra Putra menjawab pertanyaan wartawan usai acara konferesi pers terkait kasus hukum yang menimpa Gubernur Papua yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Papua Lukas Enembe di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Kamis (29/9/2022). Partai Demokrat menonaktifkan Lukas Enembe dari jabatan Ketua DPD Partai Demokrat Papua sebagai bentuk konsisten mendukung setiap upaya penegakan hukum termasuk kasus korupsi. Republika/Prayogi.
Foto: Republika/Prayogi.
Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat (PD) Herzaky Mahendra Putra menjawab pertanyaan wartawan usai acara konferesi pers terkait kasus hukum yang menimpa Gubernur Papua yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Papua Lukas Enembe di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Kamis (29/9/2022). Partai Demokrat menonaktifkan Lukas Enembe dari jabatan Ketua DPD Partai Demokrat Papua sebagai bentuk konsisten mendukung setiap upaya penegakan hukum termasuk kasus korupsi. Republika/Prayogi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra mempersilakan Anas untuk buka-bukaan kalau memang ada yang perlu dibuka. Ia menegaskan, Anas Urbaningrum bukan bagian dari Partai Demokrat.

Ia menekankan, Partai Demokrat malah bersyukur telah mendapat pelajaran pahit dari masa lalu yang membuat mereka jauh lebih kuat hari ini. Apalagi, kelompok-kelompok-kelompok yang disebutnya membuat rusak Demokrat sudah tidak ada lagi.

Baca Juga

Herzaky merasa, sisa-sisa anasir seperti kelompok Moeldoko sekalipun sudah tidak ada, berganti ke generasi baru. Ia merasa, mereka sudah belajar dari masa lalu, sehingga lebih hati-hati lagi agar tidak ada lagi upaya-upaya melakukan korupsi. "Itu yang tidak kita inginkan karena bagaimanapun komitmen kami antikorupsi," kata Herzaky, Selasa (4/4/2023).

Walaupun hadapi tantangan besar, ia melihat, masa AHY sudah berhasil membangun satu komitmen dengan kode etik yang jelas. Jadi, ketika ada kader-kader yang terlibat kasus hukum, ada mekanisme, selain AD/ART, dan ada komitmen dari masing-masing.

 

Anas, lanjut Herzaky, merupakan masa lalu dari Demokrat yang sebenarnya tidak ada kaitan lagi. Ia menegaskan, partai yang kini dipimpin Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ini mempersilakan saja kalau loyalis-loyalis Anas mengancam akan buka-bukaan karena sudah tidak ada kaitan dengan Demokrat.

"Kami tidak merasa ada hubungan sama sekali, buka, silakan saja, itu malah kita tunggu, silakan," ujar Herzaky.

Menurut Herzaky, Anas memiliki masalah dengan KPK karena yang menangkap KPK dan bukan Demokrat. Justru, ia berpendapat, yang dirugikan Demokrat karena perilaku Anas dan kelompoknya dirasa merusak Demokrat yang elektabilitas tinggi kala itu.

Sekalipun loyalis menyebut Anas korban kriminalisasi, ia mengingatkan, itu tidak ada kaitan dengan Partai Demokrat, tapi ke KPK. Maka itu, Herzaky memersilakan mereka menuntut pimpinan-pimpinan KPK yang dulu mengkasuskan dan menangkap Anas. "Kami di internal malah tidak ada yang membahas," kata Herzaky.

Herzaky menegaskan, apa yang diucapkan itu baru ke luar setelah diminta pendapat oleh awak media. Sebab, ia kembali mengingatkan, setelah Anas dan kelompoknya terlibat tindak pidana korupsi, Anas bukan bagian dari Partai Demokrat lagi.

"Begitu dia buat kasus dulu, ya sudah selesai. Bagi kami lemak-lemak masa lalu yang merusak Partai Demokrat itu sudah hilang, tubuh kami ini sudah segar, lemak hampir tidak ada, stamina oke, fisik kuat, lari kencang siap," ujar Herzaky.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement