Jumat 17 Mar 2023 08:36 WIB

Geliat Masjid Kampus, UI Kini Sepi, Salman ITB Tetap Ramai

Masjid Salman ITB terbuka tidak hanya untuk mahasiswa ITB.

Rep: Alkhaledi/Dea/ Red: Teguh Firmansyah
Suasana Masjid Salman ITB, Tamansari, Kota Bandung, Kamis (16/3/2023).
Foto: Republika/Dea Alvi Soraya
Suasana Masjid Salman ITB, Tamansari, Kota Bandung, Kamis (16/3/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Aktivitas masjid kampus di sejumlah Universitas memiliki kondisi yang berbeda-beda. Ada yang sepi, tapi tak sedikit pula yang tetap bergeliat dengan kajian atau acara ke-Islaman. 

Salah satu yang masih cukup ramai dengan aktivitas ke-Islaman adalah Masjid Salman di Institut Teknologi Bandung (ITB). Masjid Salman yang resmi dibuka secara umum pada 5 Mei 1972 telah menjadi saksi lahir dan tumbuhnya pergerakan Islam modern di tanah air. 

Baca Juga

Nafas Masjid ini tidak berhenti di lekang zaman. Dari era Soekarno, Soeharto hingga kini Presiden Joko Widodo.    

Berdasarkan pantauan Republika, meski di tengah hari, kondisi pelataran dan bagian dalam Masjid Salman nampak dipenuhi oleh mahasiswa yang sekedar menikmati makan siang, berbincang dengan teman, hingga mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.

 

Ana (21 tahun), mengaku selalu menyempatkan berkunjung ke Masjid Salman. Mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu bahkan mengaku lebih banyak menghabiskan waktu di Masjid Salman dibandingkan masjid kampusnya sendiri, baik sebagai tempat untuk mengerjakan tugas maupun untuk mengikuti beragam program yang tersedia di masjid seluas 1.225 meter persegi ini.

Meski merupakan mahasiswa di luar ITB, namun Ana mengaku  aktif mengikuti rangkaian kegiatan di Masjid Salman, mulai dari Summer Spiritual Camp (SSC), hingga Spiritual Entrepeneurial Civilizer Training (Spectra). 

Program lain seperti donor darah hingga pelatihan mujajid dakwah juga pernah dia ikuti. Ana juga dengan mantap mengungkapkan bahwa masjid ITB ini merupakan masjid kampus yang paling ramai dan paling hidup yang pernah ia kunjungi. Kegiatan-kegiatan yang diadakan, menurut Ana, juga efektif menarik orang dari berbagai kalangan untuk datang ke Masjid Salman.

“Sejauh yang aku tau, dari semua masjid kampus yang pernah aku kunjungi, Salman yang paling ramai, paling hidup lah,” ujarnya saat ditemui Republika di Masjid Salman ITB, Kamis (16/3/2023).

Berbeda dengan masjid kampus lain, yang kebanyakan dihidupkan oleh mahasiswa dan diisi dengan kegiatan yang hanya menyasar warga internal kampus, Masjid Salman ITB justru menyajikan program yang dapat merangkul segala kalangan, termasuk mahasiswa dari luar ITB, ujar Ana. 

Strategi ini, sambung dia, yang membuat Masjid Salman ITB menjadi lebih unggul dibanding masjid-masjid kampus lainnya. “Karena kalau aku lihat kalau kegiatan Salman tuh disusunnya berdasarkan pertimbangan mendalam dan rinci, selain itu karena ini masjidnya ITB ya, jadi memang citranya sudah bagus dan menjadi daya tarik. Selain itu para pengurus dan pembina Salman adalah para profesor ITB yang memang sudah tidak diragukan intelektualitasnya, jadi mereka memang fokus dan totalitas mengembangkan Salman, makanya Salman bisa bagus seperti sekarang,” paparnya.

Mahasiswi Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FP IPS) ini juga menyebutkan sejumlah daya tarik lain Masjid Salman, yang jarang dimiliki masjid-masjid kampus lainnya.

Salah satunya adanya fasilitas takjil setiap Senin dan Kamis bagi jamaah yang melaksanakan puasa sunah, ditambah dengan deretan kegiatan yang inovatif dan relate dengan persoalan yang banyak terjadi di masyarakat.

“Kegiatan yang ditawarkan memang efektif menarik orang dari semua kalangan untuk berkumpul disini, makanya selalu hidup Salman tuh,” kata Ana.

Kondisi itu berbeda dengan Masjid Universitas Indonesia yang jauh lebih sepi. Padahal dulu masjid ini dikenal sebagai salah satu pusat pergerakan keislaman.  Pantauan Republika.co.id pada Senin (13/3/2023), melihat keadaan di sana, Republika.co.id yang tak beranjak sejak sebelum sholat Zuhur hingga Isya tidak mendapati aktivitas mahasiswa di dalam masjid.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement