Senin 13 Mar 2023 14:38 WIB

Warga Tetap Diminta Waspadai Lahar Dingin Merapi

Warga tetap diminta untuk mewaspadai lahar dingin dari erupsi Merapi.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Bilal Ramadhan
Warga membantu evakuasi truk yang terguling imbas banjir lahar dingin di Kali Boyong, Sleman, Yogyakarta. Warga tetap diminta untuk mewaspadai lahar dingin dari erupsi Merapi.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Warga membantu evakuasi truk yang terguling imbas banjir lahar dingin di Kali Boyong, Sleman, Yogyakarta. Warga tetap diminta untuk mewaspadai lahar dingin dari erupsi Merapi.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Rentetan awan panas guguran yang dikeluarkan Gunung Merapi sudah terjadi sejak 11 hingga 13 Maret 2023 ini. Masyarakat pun diminta untuk tetap mewaspadai bahaya lahar, terutama saat terjadi hujan di puncak Merapi.

"Seiring dengan musim hujan yang masih terjadi di DIY dan Jateng (Jawa Tengah), maka BPPTKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai bahaya lahar," kata Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, Senin (13/3/2023).

Baca Juga

Setidaknya, BPPTKG sudah mencatat puluhan kejadian awan panas guguran Merapi sejak 11 Maret sampai 13 Maret ini, yakni berdasarkan data BPPTKG hingga pukul 09.26 WIB. Awan panas guguran yang tercatat pada 13 Maret ini baru terjadi satu kali, yakni pukul 05.23 WIB pagi.

Sedangkan, BPPTKG juga sudah mencatat bahwa pada 11 Maret terjadi sebanyak 40 kali guguran awan panas, dan pada 12 Maret terjadi sebanyak 19 kali awan panas guguran.

Agus menuturkan bahwa pada 11-12 Maret 2023, Gunung Merapi meluncurkan awan panas ke arah Kali Bebeng berdasarkan hasil survei yang dilakukan menggunakan drone.

"Hingga saat ini, Senin, 13 Maret 2023 tercatat 60 kejadian awan panas guguran di Gunung Merapi," ujar Agus.

"Ujung luncuran awan panas guguran teramati di sisi barat daya di alur Kali Bebeng. Berdasarkan pantauan foto udara menggunakan drone, jarak luncur awan panas guguran kali ini mencapai 3,7 kilometer dari puncak Gunung Merapi," lanjutnya.

Pasca-rentetan awan panas guguran ini, status Gunung Merapi masih di tingkat siaga atau berada di level 3. Selain potensi aliran lahar saat hujan, potensi bahaya Merapi saat ini juga berupa guguran lava dan awan panas.

Potensi bahaya guguran lava dan awan panas tersebut dapat meliputi Sungai Woro sejauh tiga kilometer, Sungai Gendol sejauh lima kilometer, Sungai Boyong sejauh lima kilometer, dan Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh tujuh kilometer dari puncak Merapi.

"Sedangkan, lontaran material vulkanik jika terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak Merapi," tambah Agus.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement