Ahad 26 Feb 2023 12:45 WIB

Pakar Ungkap Cara Tingkatkan Produktivitas Sawit di Indonesia

Perkebunan kelapa sawit menjadi komoditas pertanian utama pendulang devisa.

Sawit
Foto: Antara
Sawit

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia merupakan negara penghasil sawit teratas di dunia. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menunjukan produksi sawit Indonesia tahun 2022 mencapai 46,729 juta ton per tahun. Walaupun lebih rendah jika dibandingkan tahun 2021, yang sebesar 46,88 juta ton namun tetap saja Indonesia menjadi produsen terbesar.

Perkebunan kelapa sawit menjadi komoditas pertanian utama pendulang devisa. Kontribusi atau share kebun kelapa sawit pada total ekspor pertanian mencapai 73,83 persen. Sementara pada PDB Indonesia, kelapa sawit menyumbang 3,50 persen terhadap total PDB Indonesia.

Baca Juga

Walaupun menjadi produsen terbanyak, sayangnya justru produktivitas kelapa sawit di Indonesia cenderung menurun. Pada tahun 2005 produktivitas kelapa sawit di Indonesia mencapai 20.05 ton per hektar turun menjadi 17,11 ton per hektar pada tahun 2020. Produktivitas Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia yang produktivitasnya mencapai 18,53 ton per hektar per tahun. 

Widodo, Guru Besar IPB, dalam orasi ilimiahnya menyampaikan persoalan ini. Menurutnya, perlu upaya meningkatkan produktivitas sawit di Indonesia. Betul bahwa produksi sawit tertinggi di dunia, tapi itu karena luasan tutupan lahan kelapa sawit yang luas mencapai 16,38 juta hektar. “Masalahnya kita tidak mungkin melakukan pembukaan kebun sawit terus menerus. Dengan luasan yang ada, kita harusnya mampu mengoptimalkannya melalui pengelolaan kesehatan tanaman dan lingkungan, terutama ketika peremajaan (replanting)” terangnya.

 

Menurut Widodo, penurunan produktivitas kelapa sawit dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu umur tanaman yang semakin tua, daya dukung lahan (kesehatan lahan) yang menurun, perubahan iklim dan ancaman organisme pengganggu tanaman, baik hama maupun penyakit. Salah satu penyakit utama kelapa sawit adalah penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh Ganoderma Boninense. Penyakit ini mampu penurunan produksi kelapa sawit hingga lebih dari 50% dan menyebabkan kerugian ekonomis hingga 68%. 

“Perlu upaya kuat untuk mengelola dampak perubahan iklim dan serangan hama penyakit seperti busuk pangkal batang. Hal ini perlu direncanakan dan diimplementasikan sebaik mungkin ketika program peremajaan kelapa sawit mulai dilakukan. Epidemi (ledakan) penyakit akan terjadi saat populasi patogen yang banyak, adanya tanaman inang yang rentan dan lingkungan yang mendukung perkembangan penyakit. Kondisi tersebut saat ini sudah mulai terlihat di Indonesia, dengan semakin meningkatnya keadaan serangan dari tahun ke tahun. Karenanya peningkatan produktivitas diharapkan dapat tercapai dengan mengelola ke tiga hal tersebut dan dilakukan mulai dari persiapan lahan, pembibitan dan ketika tanaman sudah berada di lahan replanting” terang Widodo. 

Munculnya serangan penyakit dan penurunan produktivitas, banyak dipengaruhi faktor lingkungan. Widodo mengusulkan agar pengelolaan penyakit busuk pangkal batang yang diterapkan dalam program peremajaan kelapa sawit ditekankan pada pengelolaan kesehatan lingkungan agar populasi patogen yang sudah terakumulasi pada periode penanaman sebelumnya tidak menimbulkan permasalahan yang berarti . Hal ini merupakan strategi pre-emtif, yang diikuti dengan pemantauan dan deteksi dini, kemudian dilakukan tindakan responsif jika diperlukan.  

“Tindakan pre-emtif dilakukan untuk mengurangi jumlah inokulum awal dan sumber substrat yang tersedia bagi patogen (food base), menghindar dari patogen (avoidance) dan meningkatkan kebugaran tanaman” jelas Widodo.  

Adapun bentuk kegiatan yang dapat dilakukan dalam tindakan per-emtif diantaranya dengan memindahkan batang kelapa sawit bersama akarnya dengan digali minimal 80 cm, mengaplikasikan mikrob antagonis dan dekomposer yang teruji. Jika diperlukan dapat diterapkan perlakuan solarisasi tanah pada lubang tanam di titik-titik serangan (hot spot) pada masa penanaman sebelumnya untuk mengurangi inokulum patogen di dalam tanah, mengaplikasikan mikroba bermanfaat yang berperan sebagai agens pengendalian hayati dan pupuk hayati, menggunakan bibit berkualitas, menanam tanaman sela dengan tanaman semusim yang sesuai dengan lahan setempat (misal padi, jagung, dan lain-lain) dan tanaman penutup untuk meningkatkan keaneka ragaman dan peran mikrob bermanfaat lokal sehingga kesehatan lahan dapat terjaga. 

“Jangan lupa untuk tetap meningkatkan kebugaran tanaman melalui pemenuhan kecukupan dan ketersediaan nutrisi bagi tanaman, terutama unsur K (Kalium), Mn (Mangan) dan Zn (Seng) yang diketahui dapat mengurangi peluang terjadinya penyakit BPB. Program pengembalian tandan kosong ke lahan juga perlu dilakukan, agar sumber nutrisi yang terkuras dari lahan karena pemanenan dapat kembali sehingga menghemat biaya pemupukan. Selain itu juga perlu dilakukan pemantauan agar dapat diambil tindakan responsif sedini mungkin sebelum penyakit menyebar” tambah Widodo.

Mengingat keberhasilan tindakan tersebut tidak hanya ditentukan oleh tersedianya teknologi, tetapi juga diperlukan pengorganisasian dan tata kelola yang baik, di akhir orasinya, Widodo menyampaikan harapannya kepada para pihak, terutama pemangku kepentingan untuk bersama-sama mendorong peremajaan sawit yang mengedepankan semangat berbagi dan implementasi pengelolaan tanaman sehat. Dengan demikian tidak hanya produksi dan produktivitas yang terjaga namun keberlanjutan produksi yang layak secara ekonomi, ramah terhadap lingkungan (ekologis) dan berkeadilan secara sosial dapat terwujud. 

Menurutnya, peningkatan produksi dan produktivitas sawit dapat dimulai dengan pengelolaan penyakit kelapa sawit yang tidak diberlakukan sebagai “pemadam kebakaran” yang baru bertindak ketika permasalahan sudah membesar, namun perlu perencanaan dari awal agar tidak terjadi “kebakaran” melalui pendekatan pre-emtif”.

“Optimalisasi produktivitas sawit yang berkelanjutan melalui pengelolaan kesehatan pertanaman dengan mengoptimalkan luasan yang ada tidak hanya akan mengurangi pembukaan kebun baru, menumbuhkan sektor pertanian, meningkatkan devisa negara, dan PDB namun lebih jauh meningkatkan derajat kesejahteraan petani sawit yang hari ini jumlahnya tidak sedikit” pungkas Widodo 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement