Kamis 05 Jan 2023 19:30 WIB

Kedubes AS di Kuba Kembali Buka Layanan Visa

Kedubes AS sebelumnya ditutup pada 2017 karena sejumlah staf terserang penyakit.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha
Sebuah mobil konvertibel Amerika klasik melintas di samping kedutaan Amerika Serikat saat bendera Kuba berkibar di Anti-Imperialis Tribune, sebuah panggung besar di promenade pantai Malecon di Havana, Kuba, 26 Juli 2015. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuba membuka visa dan layanan konsuler pada hari Rabu, 4 Januari 2023. Ini adalah pertama kalinya sejak serentetan insiden kesehatan yang tidak dapat dijelaskan di antara staf diplomatik pada tahun 2017 memangkas kehadiran Amerika di Havana
Foto: AP Photo/Desmond Boylan
Sebuah mobil konvertibel Amerika klasik melintas di samping kedutaan Amerika Serikat saat bendera Kuba berkibar di Anti-Imperialis Tribune, sebuah panggung besar di promenade pantai Malecon di Havana, Kuba, 26 Juli 2015. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuba membuka visa dan layanan konsuler pada hari Rabu, 4 Januari 2023. Ini adalah pertama kalinya sejak serentetan insiden kesehatan yang tidak dapat dijelaskan di antara staf diplomatik pada tahun 2017 memangkas kehadiran Amerika di Havana

REPUBLIKA.CO.ID, HAVANA -- Kedutaan Besar AS di Havana melanjutkan pemrosesan visa imigran penuh dan layanan konsuler untuk pertama kalinya sejak 2017 pada Rabu (4/1/2023). Ini upaya membendung aliran migran ilegal dari Kuba utara ke Amerika Serikat yang memecahkan rekor.

Kedutaan AS memangkas layanan pada  2017 setelah beberapa stafnya terserang penyakit yang sebagian besar masih belum dapat dijelaskan. Penyakit ini dijuluki "Sindrom Havana". 

Baca Juga

Penyakit Sindrom Havana pertama kali dilaporkan di antara pejabat AS pada 2016. Gejala penyakit ini termasuk mual dan hilang ingatan. Ketika itu warga Kuba diminta melakukan perjalanan ke Guyana untuk pemrosesan visa. Perjalanan ke Guyana cukup mahal dan tidak semua warga Kuba mampu menjangkaunya.

Kedutaan Besar AS di Havana memulai pemrosesan visa terbatas tahun lalu. Pada September, Washington mengumumkan pembukaan kembali kedutaan secara penuh pada 2023, untuk memastikan migrasi warga Kuba yang aman, legal, dan teratur.

Pada Rabu, puluhan warga Kuba mengantre dan berkumpul di sebuah taman kecil dekat kedutaan. Mereka memeriksa dokumen dan saling mengobrol sambil menunggu instruksi dari staf kedutaan. Seorang warga Kuba, Barbara Nodas (20 tahun) mengatakan, dia sedang menunggu untuk mengambil visa. Dia akan terbang ke Tampa, Florida untuk bertemu ayahnya.

"Impian banyak orang Amerika menjadi kenyataan. Ini momen yang ditunggu-tunggu," ujar Nodas dengan mata yang berkaca-kaca.

Nodas melakukan perjalanan dari Kuba timur untuk mengambil visanya. Dia termasuk di antara sedikit orang beruntung yang akan melakukan perjalanan ke AS secara legal.  Washington tahun lalu mengeluarkan 20 ribu visa imigran ke Kuba, termasuk sejumlah kecil dari Havana, sejalan dengan perjanjian migrasi yang ditandatangani sebelumnya. AS akan melanjutkan kebijakan serupa pada 2023. 

Kuba dan AS juga telah memulai kembali pembicaraan rutin tentang migrasi dalam upaya untuk menghentikan arus imigran. Tahun lalu, sekitar 250 ribu orang Kuba telah meninggalkan negaranya menuju ke Amerika Serikat. Sebagian besar imigran melewati rute yang berbahaya. Mereka melakukan perjalanan darat dari Amerika Tengah ke utara ke perbatasan atau melintasi Selat Florida dengan rakit buatan sendiri.

Kuba menyalahkan embargo AS, jaringan undang-undang, dan peraturan AS yang mempersulit transaksi bisnis dan keuangan dengan pulau itu. Langkah AS ini melumpuhkan ekonomi dan memicu migrasi ilegal dari Kuba.

Kekurangan makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan listrik yang meluas - diperparah oleh pandemi virus corona - telah memicu kerusuhan yang tersebar di pulau itu dan membuat banyak orang mencari alternatif di luar negeri.

 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement