Sabtu 19 Nov 2022 14:21 WIB

Muhadjir Berharap Duet Haedar-Mu'ti Berlanjut Pimpin Muhammadiyah

Duet Haedar-Mu'ti dinilai mengembangkan Muhammadiyah di tengah pandemi Covid-19.

Rep: C02/ Red: Agus raharjo
Menko PMK Muhadjir Effendy menyampaikan sambutan saat peresmian di Museum Muhammadiyah, Bantul, Yogyakarta, Senin (14/11/2022). Museum Muhammadiyah yang terletak di kampus Universitas Ahmad Dahlan akhirnya diresmikan jelang Muktamar ke-48 Muhammadiyah. Di dalam museum ini, pengunjung bisa melihat sejarah perjalanan Muhammadiyah yang penyajiannya dipadukan dengan teknologi canggih. Sehingga selain untuk rekreasi, juga bisa untuk sarana edukasi pengunjung.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Menko PMK Muhadjir Effendy menyampaikan sambutan saat peresmian di Museum Muhammadiyah, Bantul, Yogyakarta, Senin (14/11/2022). Museum Muhammadiyah yang terletak di kampus Universitas Ahmad Dahlan akhirnya diresmikan jelang Muktamar ke-48 Muhammadiyah. Di dalam museum ini, pengunjung bisa melihat sejarah perjalanan Muhammadiyah yang penyajiannya dipadukan dengan teknologi canggih. Sehingga selain untuk rekreasi, juga bisa untuk sarana edukasi pengunjung.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO–Kader Muhammadiyah sekaligus Menteri Koordinator PMK, Muhadjir Effendy berharap duet antara Haedar Nashir-Abdul Mu'ti kembali memegang kemudi Muhammadiyah periode 2022-2027 mendatang. Hal tersebut diungkapkan Muhadjir usai pembukaan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-48 di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (19/11/2022).

Muhadjir berharap kepemimpinan Muhammadiyah di bawah Haedar-Mu'ti berlanjut. "Kita harap begitu, kita melihat duet antara Kiai Haedar Nashir dengan prof Abdul Mu'ti ini sudah terbukti selama satu periode," kata Muhadjir, Sabtu (19/11/2022).

Baca Juga

Muhadjir mengakui kepemimpinan duet tersebut telah berhasil mempertahankan Muhammadiyah, namun juga mengembangkannya. Khususnya ketika sedang ada cobaan selama Covid-19. "Bukan hanya sekadar bisa mempertahankan Muhammadiyah dalam suasana Covid-19 tapi juga berkembang sangat pesat khususnya dalam rangka internasionalisasi Muhammadiyah," tegasnya.

Menurut Muhadjir, sosok Haedar adalah seorang yang menjadi acuan di Muhammadiyah karena seperti ensiklopedia berjalan. "Dan Pak Haedar itu ensiklopedia hidup Muhammadiyah, menguasai mulai dari sejarah landasan filosofisnya dan renik-renik administrasi," terangnya.

 

Sedangkan, sosok Prof Abdul Mu'ti dinilainya adalah pelaksana handal apabila suatu kebijakan telah diputuskan di Muhammadiyah. "Sedangkan Prof Abdul Mu'ti itu seorang eksekutor yang bisa diandalkan di Muhammadiyah," tutur Muhadjir.

Ketika disinggung soal namanya yang masuk daftar calon anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan perolehan 141 suara, Muhadjir mengaku akan menyerahkan semuanya kepada para peserta muktamar.

Namun, ia menegaskan akan tetap mengambil peran dimanapun nantinya dirinya ditempatkan. "Dan Muhammadiyah itu bisa berperan dimana saja, seperti Pak Din ketua umum PP dulu, sekarang jadi ketua ranting, ya saya begitu mungkin kedepan bisa jadi ketua ranting," tegasnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement