Senin 17 Oct 2022 15:16 WIB

Deklarasi Capres KIB di 2023 Hanya akan Untungkan Golkar

PAN dan PPP dinilai merugi karena kekurangan waktu mendongkrak elektabilitasnya.

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Indira Rezkisari
Ketua Umum Golkar Airlagga Hartarto (tengah), Ketum PAN Zulkifli Hasan (kiri), Ketum PPP Suharso Monoarfa (kanan) saat meluncurkan Visi-Misi Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) di Hotel Shangri-la, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (14/8/2022).
Foto: Istimewa
Ketua Umum Golkar Airlagga Hartarto (tengah), Ketum PAN Zulkifli Hasan (kiri), Ketum PPP Suharso Monoarfa (kanan) saat meluncurkan Visi-Misi Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) di Hotel Shangri-la, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (14/8/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menanggapi Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto yang menyatakan KIB akan mendeklarasikan Capres pada September 2023. Menurutnya, kalau hal itu dilakukan KIB, ada kemungkinan koalisi tersebut menunggu kepastian Ganjar Pranowo diusung PDIP atau tidak.

"Kalau Ganjar tidak diusung PDIP, ada kemungkinan KIB akan menggandengnya menjadi cawapres mendampingi Airlangga. Tapi kalau Ganjar diusung PDIP, ada kemungkinan KIB akan menduetkan Airlangga dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil," katanya pada Senin (17/10/2022).

Baca Juga

Kemudian, ia melanjutkan siapapun yang akan diusung KIB bila dideklarasikan saat mendekati pendaftaran Capres tentu dapat merugikan partai pendukung koalisi tersebut. KIB akan kehilangan waktu berharga untuk mensosiliasikan pasangan Capres yang mereka usung.

"Ibarat ketinggalan kereta, KIB akan tertinggal dalam memperkenalkan Capresnya. Hal itu akan semakin sulit mendongkrak elektabilitas Capres yang diusung," kata dia.

Ia menambahkan bagi partai pendukung khususnya PPP dan PAN hal itu sangat merugikan. Pasangan yang diusung akan sulit membawa efek ekor jas bagi kedua partai tersebut.

"Padahal, hasil survei elektabilitas PPP dan PAN tidak sampai empat persen. Ini artinya, kedua partai itu berpeluang besar tidak masuk Senayan pada Pileg 2024," kata dia.

Karena itu, kalau KIB salah mengusung Capres dan mendeklarasikan saat mepet waktu pendaftaran Capres maka efek ekor jas yang diharapkan akan sulit terwujud. Padahal efek ekor jas itulah yang diharapkan PPP dan PAN untuk menyelamatkannya tidak terlempar dari Senayan pada Pileg 2024.

"Berbeda dengan Golkar, tanpa efek ekor jas akan tetap melenggang ke Senayan pada Pileg 2024. Karena itu, Golkar tidak akan dirugikan bila mendeklarasikan pasangan Capres mendekati September 2023," kata dia.

Perbedaan tersebut kiranya akan membuat PPP dan PAN berpikir ulang untuk mengikuti Golkar mendeklarasikan pasangan Capres mendekati September 2023. "Sebab, hal itu tidak merugikan Golkar, tapi justru membahayakan eksistensi PPP dan PAN di Senayan," kata dia.

Sebelumnya diketahui, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menyampaikan, deklarasi calon presiden (capres) yang akan diusung oleh Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) akan dilakukan menjelang pendaftaran pemilu pada September 2023 mendatang.

"Jilid terakhir. Jadwal pemilu kan September 2023 pendaftarannya,” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (12/10/2022).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement