Kamis 13 Oct 2022 09:32 WIB

Benarkah Gegara Obat? Ini Kesaksian Keluarga Korban Gangguan Ginjal Misterius

Bayi gangguan ginjal misterius hanya dirawat lima hari sebelum akhirnya meninggal.

Rep: Fitriyan Zamzami/ Red: Indira Rezkisari
Penyakit gangguan ginjal akut misterius ditemukan di sejumlah anak di Indonesia. Penyebabnya, belum diketahui.
Foto: Foto : Mardiah
Penyakit gangguan ginjal akut misterius ditemukan di sejumlah anak di Indonesia. Penyebabnya, belum diketahui.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Penyakit gangguan ginjal akut misterius alias accute kidney injury of unknown origin muncul di Indonesia. Mayoritas penderitanya adalah anak-anak. Bagaimana gejala penyakit tersebut dan apakah benar bahwa konsumsi obat-obatan memicu penyakit yang tergolong mematikan itu?

"Jejak sejarahnya hanya pendek: 7 bulan. Menghirup udara kala Bumi masih didera pandemi pada 23 Februari. Tepat pada Ahad pukul ahad 25 September 2022, ia kembali ke pemilik sebenarnya," tulis Yusuf Maulana, seorang penulis dan editor penerbitan yang berdomisili di Yogyakarta di laman Facebook-nya.

Baca Juga

"Tim dokter yang menangani anak saya mengatakan ia diidentifikasi masuk pasien accute kidney injury of unknown origin," ia menuturkan kemudian kepada Republika.co.id, Kamis (13/10/2022). Menurutnya, Kehilangan itu diawali demam biasa pada Ahad 18 September 2022. Sekeluarganya saat itu memang tengah bergiliran terkena batuk-pilek yang mendera banyak keluarga di Indonesia belakangan ini.

"Jadi awalnya sangat sederhana, sebuah demam dengan gejala biasa yang kemudian diikuti kejang-kejang ringan, step. Jadi dia membelalak mata ke atas anak saya," ujarnya.

 

Demam itu kemudian dikuti berkurangnya buang air kecil. Yusuf dan istrinya menilai hal itu terkait dehidrasi karena ASI dari sang istri yang tiba-tiba tak lancar. "Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Istri saya pernah sakit lebih parah ASI-nya baik-baik saja."

Kekhawatiran dehidrasi itu kemudian disiasati dengan pemberian susu formula. Ternyata kondisi sang bayi kian memburuk. Pada Senin, demam meningkat dan mulai terjadi kejang ringan. "Setelah itu kami masukkan di faskes sekelas klinik pratama, kemudian diarahkan ke rumah sakit besar," ujarnya.

Dari situ, keparahan kian lekas. Dalam hitungan jam, putri Yusuf Maulana berpindah dua rumah sakit sebelum akhirnya dirawat di RSUP dr Sardjito di Yogyakarta pada 20 September 2022. "Kemudian saya temui di RSUP dr Sardjito pada pasien ke-6 gejalanya kurang lebih sama," tutur Yusuf Maulana. Anaknya kala itu adalah pasien ke-7 yang dirawat terkait gejala penyakit gangguan ginjal akut misterius. 

Ia mengetahui dari tim dokter, pada anaknya keganasan menyerang paru lebih dulu, kemudian liver, saraf, dan pada akhirnya ke ginjal. "Jadi sangat cepat, sangat cepat," kata dia. Sementara pada pasien nomor enam, urutannya sedikit berbeda, yakni sarafnya yang terkena lebih dulu.

Mengingat masih misteriusnya penyakit yang mendera anaknya, Yusuf Maulana menyetujui saat pihak rumah sakit meminta kesediaan observasi untuk kepentingan akademis dan saintifik. Berbagai tindakan coba diambil pihak rumah sakit, namun pada akhirnya ananda tak terselamatkan setelah lima hari dirawat. "Sudah maksimal ikhtiar kita termasuk tim medis juga sudah maksimal," ujar Yusuf Maulana berupaya merelakan putrinya.

Belakangan, ia membaca sejumlah berita yang mengaitkan penyakit misterius yang mendera putrinya dengan penggunaan obat asal India seperti yang terjadi di Gambia. "Jadi kami bukan pengguna obat, juga tidak ada kontak (dengan pasien lain) dan dokter menanyakan itu kami jawab 'tidak ada'. Jadi murni baru ASI dan MPASI yang bikinan sendiri istri saya. Sufor (susu formula) juga baru sekali ketika hari Sabtu itu dua kali diberikan. Berkali-kali dokter memastikan sampai menyebut merek dan sebagainya," Yusuf menekankan.

Hal ini juga coba dipastikan Yusuf saat berbincang dengan keluarga korban lainnya. "Pasian nomor enam juga saya bicara dengan ayahnya tidak ada (penggunaan obat). Ada tetangga desa dengan gejala yang mirip juga demikian. Cepat sekali, pagi masih ketawa-ketawa siang demam, Ashar dibawa ke rumah sakit langsung sudah ndak ada."

Selain itu, di keluarganya juga tidak ada yang positif Covid-19. "Itu poin-poin yang bisa saya sampaikan. Jadi lebih fair dan lebih clear yang dikatakan tim medis di RSUP dr Sardjito, 'kami masih menyelidiki dan ini masih benar-benar misterius'."

Yusuf juga mempertanyakan, sejauh ini Yogyakarta belum dimasukkan sebagai lokasi penyebaran penyakit misterius itu. "Saya membaca berita di berbagai media, kok Yogya tidak dimasukkan? Apakah disatukan dengan Jateng, padahal paling tidak sampai akhir September kemarin anak saya adalah kasus ketujuh dan melanda anak-anak di bawah 12 bulan."

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, Mohammad Syahril mengatakan, hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab kasus gangguan ginjal akut misterius yang terjadi pada anak-anak. Namun, kata dia, dugaan awal kasus ini dipicu oleh konsumsi obat yang mengandung etilen glikol.

"Kami sedang koordinasi untuk mengetahui hasil investigasinya. Dugaan ke arah konsumsi obat yang mengandung etilen glikol. Tapi hal ini perlu penelitian lebih lanjut karena tidak terdeteksi dalam darah. Dugaan mengarah ke intoksikasi (keracunan)," tutur Syahril, Rabu (12/10/2022) malam.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement