Selasa 11 Oct 2022 19:53 WIB

Fahri Hamzah: Politik Identitas dan Polarisasi Mulai Marak

Politisi Fahri Hamzah sebut politik identitas dan polarisasi masyarakat mulai marak.

Rep: Febriyanto Adi Saputro/ Red: Bilal Ramadhan
Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah sebut politik identitas dan polarisasi masyarakat mulai marak.
Foto: Republika/Febrianto Adi Saputro
Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah sebut politik identitas dan polarisasi masyarakat mulai marak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Fahri Hamzah, menyoroti soal memanasnya pencapresan 2024 pasca Partai Nasdem deklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden (capres) Partai Nasdem beberapa waktu lalu.

Fahri mengatakan, padhal jadwal pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden di Pilpres 2024 masih setahun lagi, baru dibuka pada 2023 mendatang.

"Saat ini akibat adanya deklarasi-deklarasi pencapresan, mengakibatkan terjadi pembelahan di awal. Politik identitas dan polarisasi di masyarakat mulai marak lagi," kata Fahri Hamzah dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (11/10).

Ia mengatakan pencalonan presiden dan wakil presiden baru akan dilakukan pada 19 Oktober 2023 hingga 25 November 2023 mendatang. Menurutnya yang mesti  dibicarakan terlebih dahulu adalah masalah dan ancaman terhadap bangsa. Setelah matang dibicarakan, baru memunculkan calonnya.

 

"Namun, yang terjadi saat ini, adalah calon presiden duluan yang bermunculan. Calon presiden tersebut, sebagai besar minim ide," ucap Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 itu.

Dengan menampilkan banyak capres oleh elit politik saat ini, menurut Fahri yang kasihan adalah rakyat. Bahkan ia mengibaratkan seperti sudah pilpres, tapi terlalu dini dan belum waktunya, sehingga yang muncul adalah pertarungan kosong atau 'pepesan kosong'.

"Para pimpinan negara mungkin sebelum tidur lagi coba sedikit memikirkan akibat pilpres yang terlalu dini tanpa kejelasan ini. Setahun pertarungan kosong yang melelahkan. Pileg juga jadi kosong tidak relevan. Kasian rakyat terbelah sebelum waktunya dalam bahaya," kata politisi dari Nusa Tanggara Barat (NTB) tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement