Selasa 27 Sep 2022 15:24 WIB

Anies: Jumlah Penumpang Angkutan Umum Jakarta Capai 4 Juta per Hari pada 2030

Jumlah penumpang angkutan umum massal di DKI saat ini satu juta orang per hari.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan, jumlah penumpang angkutan umum massal di Ibu Kota pada 2030 mencapai empat juta orang per hari.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan, jumlah penumpang angkutan umum massal di Ibu Kota pada 2030 mencapai empat juta orang per hari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan, jumlah penumpang angkutan umum massal di Ibu Kota pada 2030 mencapai empat juta orang per hari. Angka itu naik dari saat ini mencapai satu juta orang per hari.

"Saya yakin jumlah pengguna kendaraan umum di Jakarta akan makin bisa meningkat dan sesuai target," kata Anies di Balai Kota Jakarta, Selasa (27/9/2022).

Baca Juga

Menurut dia, sebelum mencapai satu juta penumpang per hari, jumlah penumpang angkutan umum massal di Jakarta mencapai sekitar 350 ribu orang per hari. Dia menjelaskan, Pemprov DKI tidak mengharuskan warga menggunakan transportasi umum.

Namun, Pemprov DKI mengalokasikan insentif sehingga tarif transportasi lebih mudah dijangkau masyarakat. Selain itu, Pemprov DKI menambah kenyamanan angkutan umum hingga melakukan revitalisasi halte atau stasiun dan jalur pejalan kaki seperti trotoar.

Upaya tersebut diyakini mendorong penggunaan transportasi umum massal. "Pilihan menggunakan kendaraan umum bukan karena diharuskan tapi karena itu adalah pilihan rasional. Begitu sebuah kebijakan dirasakan oleh warga sebagai pilihan rasional, mungkin kebijakan itu akan mendapatkan pengguna yang lebih banyak," katanya.

Berdasarkan data Dinas Perhubungan DKI, anggaran Kewajiban Layanan Umum (Public Service Obligation/PSO) transportasi umum pada 2019 mencapai Rp 3,1 triliun dan meningkat pada 2022 menjadi Rp 3,5 triliun. Pada 2022, besaran PSO untuk transportasi umum di DKI mencapai sekitar Rp 4 triliun dengan alokasi paling besar TransJakarta sekitar Rp 3,2 triliun, MRT sekitar Rp 600 miliar dan LRT Jakarta sekitar Rp 200 miliar.

Sedangkan ketika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi naik, tarif angkutan umum massal yang terintegrasi tidak mengalami kenaikan. Pemprov DKI menggelontorkan insentif berupa subsidi mencapai Rp 62,1 miliar untuk TransJakarta dan Rp 4,8 miliar untuk angkutan kapal ke Kepulauan Seribu.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement