Kamis 28 Jul 2022 04:29 WIB

Soal Capres dan Cawapres PDIP, Hasto: Bu Mega akan Petimbangkan yang Terbaik

Keputusan soal capres-cawapres berada di tangan Megawati.

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto
Foto: istimewa
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto meminta agar kader partai mengambil api semangat peristiwa 27 Juli 1996 untuk lebih semakin memperkuat pergerakan ke rakyat di bawah. Ditegaskan juga bahwa soal capres-cawapres 2024, Ketua Umum Megawati Soekarnoputri pasti akan mempertimbangkan yang terbaik bagi bangsa dan rakyat Indonesia.

Pesan itu disampaikan Hasto saat berpidato di rapat pimpinan PDIP Sulawesi Selatan (Sulsel) yang dilakukan di Kota Makassar, Rabu (27/7/2022). 

Baca Juga

Hasto hadir di acara itu dengan didampingi oleh Ketua DPP PDIP bidang Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri. Jajaran kader PDIP Sulsel dipimpin Ketua DPD PDIP Sulsel Ridwan Andi Wittiri dan Sekretaris Rudi Pieter Goni. 

Acara itu juga dihadiri oleh Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, lalu para ketua dan sekretaris DPC PDIP se-Sulsel, anggota DPR Fraksi PDIP dari dapil Sulsel Samsu Niang dan Sarce Bandaso Tandiasik, serta kepala daerah dan para anggota DPRD Fraksi PDIP se-Sulsel.

 

Hasto berbicara soal peringatan peristiwa 27 Juli tersebut. Dijelaskannya bagaimana dahulu Soekarno dilengserkan karena kekuatan pikirannya berhasil memerdekakan Indonesia dari Belanda, dan bagaimana Soekarno memerdekakan bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Hal ini menakutkan bagi banyak negara Barat.

Ketakutan itu membuat kolaborasi Barat dengan kekuatan Soeharto, dan berlanjut hingga ke era Orde Baru. Hingga kemunculan Megawati Soekarnoputri yang terus menggerakkan serta menyadarkan rakyat untuk bebas dari kungkungan tirani. Gerak Megawati terus berusaha dijatuhkan hingga berpuncak pada peristiwa 27 Juli tersebut.

Dari kejadian itu, kata Hasto, kader PDIP harus mengingat bahwa kekuatan kita adalah berasal dari rakyat. 

“Maka jangan lupakan arus bawah. Jangan mengejar kepentingan diri sendiri dan kapital. Sebab politik itu dedikasi bagi bangsa dan negara serta berjuang bagi kepentingan umum. Peristiwa 27 Juli mengajarkan kita bergerak ke bawah,” ujar Hasto.

Hasto menyatakan seluruh kader PDIP harus menyelami pemikiran rakyat, berusaha mendidik, dan bantu rakyat mencari solusi atas permasalahan kehidupannya. 

“Jadi kekuatan kader PDI Perjuangan akan diukur dari bagaimana naiknya human development index, kualitas pendidikannya, pergerakan ekonomi rakyatnya, bagaimana kesehatannya,” ujar Hasto.

Hasto juga bicara soal hasil rakernas partai yang digelar beberapa bulan lalu. Dia menjelaskan terkait isu capres-cawapres. Bagi PDIP kondisi rakyat sedang susah karena pandemi belum selesai serta masalah inflasi serta pangan dunia yang juga berimbas ke Indonesia.

Dalam situasi ini seluruh partai politi seharusnya bergotong royong ke bawah membantu rakyat. Presiden Jokowi dan para pemimpin sudah menunjukkan sikap itu. Maka parpol juga harus membangun hal yang sama. 

“Bukan malah maju ke kontestasi itu terlalu cepat. Ada parpol yang begitu. Kalau kita, tenang saja. Buat kita yang penting kita konsolidasi dengan rakyat,” urai Hasto.

Sesuai keputusan kongres dan rakernas, Hasto mengatakan bahwa keputusan soal capres-cawapres berada di tangan Megawati. Dan kepemimpinan Mega sudah terbukti menghasilkan sosok seperti Presiden Jokowi, Prananda Prabowo, Puan Maharani, Tri Rismaharini, Pramono Anung, Olly Dondo Kambey, Ganjar Pranowo, I Wayan Koster, Abdullah Azwar Anas, , dan lain-lain.

“Mekanisme partai kita telah proven bahwa banyak pemimpin lahir dari rahim PDI Perjuangan. Maka kita jangan ragu. Kita bantu rakyat dulu. Atasi berbagai persoalan. Hadapi yang sebarkan ideologi yang bukan Pancasila,” ujar Hasto.

“Pendaftaran capres baru satu tahun dari sekarang. Masih banyak hal terjadi dalam 1 tahun itu. Maka kita memilih bergerak. Capres cawapres serahkan ke Ibu Mega dan beliau akan mempertimbangkan yang terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia,” tegas Hasto.

Hasto juga mengingatkan kader PDIP soal hasil rakernas yang mendorong pembangunan Indonesia dari desa. “Desa kuat, Indonesia kuat. Angkat kulinernya, keindahan alam rayanya, sehingga dari desa bergeraklah ekonomi berdikari,” ujarnya.

Selain itu, rakernas juga mendorong kader PDIP menggerakkan kebudayaannya di wilayah masing-masing agar going global.

“Bagaimana ini bisa going global dan kita kembangkan. Kita bangun mentalitas bergerak ke bawah, tiada hari tanpa pergerakan. Kita harap dapat dibahas pada rapat pimpinan ini,” kata Hasto.

Andi Ridwan Wittiri menggelorakan semangat kader PDIP Sulsel agar semakin kerja keras mempersiapkan diri menuju 2024. Semua harus satukan semangat perjuangan di seluruh tingkatan, baik di eksekutif, legislatif, maupun struktur. 

“Kita wajib siapkan menangkan pemilu 2024, tak ada pilihan lain selain satu hal, yakni solid. Kita harus gerak terukur dan terarah. Berpijak dan jalankan konstitusi partai kita. Ibu mega selalu ingatkan kita bahwa berjuanglah menjadikan PDI Perjuangan sebagai partai pelopor dan solid dengan disiplin teori, pikiran, dan tindakan,” kata Wittiri.

Gubernur Andi Sudirman Sulaiman, dalam sambutannya mengapresiasi PDIP dan kadernya yang memiliki organisasi serta kesatuan sikap yang luar biasa dibanding parpol lain. 

“Saya mengapresiasi Fraksi PDIP yang selalu mendukung pemerintahan saya. Semangat kita adalah semangat membangun Indonesia Raya bersama-sama,” kata Sudirman Sulaiman.

Di sela-sela pelaksanaan rapim, Hasto juga menyempatkan diri untuk melakukan ziarah dan doa di makan pahlawan nasional Pangeran Diponegoro. Makan itu terletak di Kecamatan Wajo, Kota Makkasar.

Hasto terlihat khusyuk saat bersila dan berdoa di kompleks makam tersebut. Diapun menandatangani buku tamu dan mendengarkan sekelumit sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement