Ahad 17 Jul 2022 14:26 WIB

BMKG Ungkap Penyebab Hujan Masih Terjadi Saat Musim Kemarau

Kondisi suhu muka laut di Jabar relatif hangat sehingga berpotensi timbul awan hujan

Rep: fauzi ridwan/ Red: Hiru Muhammad
Pengendara motor memenuhi trotoar Jalan Diponegoro, untuk memakai jas hujan di bawah rindangnya pohon saat hujan deras mengguyur Kota Bandung, beberapa waktu lalu. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung memprediksi musim hujan di Bandung Raya bakal datang lebih awal dari tahun-tahun sebelumnya dan mengalami peningkatan dari kondisi normal antara 20 persen sampai 40 persen lebih tinggi.
Foto: Edi Yusuf/Republika
Pengendara motor memenuhi trotoar Jalan Diponegoro, untuk memakai jas hujan di bawah rindangnya pohon saat hujan deras mengguyur Kota Bandung, beberapa waktu lalu. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung memprediksi musim hujan di Bandung Raya bakal datang lebih awal dari tahun-tahun sebelumnya dan mengalami peningkatan dari kondisi normal antara 20 persen sampai 40 persen lebih tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG--Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung mengungkap penyebab hujan masih terjadi di Kota Bandung dan Jawa Barat saat musim kemarau berlangsung. Musim kemarau sendiri tahun 2022 ini berlangsung singkat hanya beberapa bulan.

"Memang saat ini musim kemarau tergolong musim kemarau singkat, Juli, Agustus September karena memang memasuki awal kemarau itu dia ada gangguan fenonema global La Nina hingga turun hujan," ujar Prakiraan Staisun Geofisika BMKG Klas I Bandung Iid Mujtahiddin saat dikonfirmasi, Ahad (17/7/2022).

Baca Juga

Ia menuturkan penyebab hujan masih terjadi di musim kemarau saat ini karena kondisi suhu muka laut di wilayah Jawa Barat relatif hangat sehingga berpotensi menumbuhkan awan hujan. Meski kondisi global seperti La Nina saat ini sudah mendekati ke arah yang netral.

Ia melanjutkan hujan yang terjadi beberapa hari terakhir pun dipengaruhi kondisi masa udara yang cenderung basah sehingga mendukung awan hujan dengan skala lokal. Pada musim kemarau biasanya masa udara cenderung kering.

"Misal dalam satu pekan ada mendung, hujan ada sedang ringan atau lebat tapi ada kondisi tutupan awan kecil seperti di awal Juli relatif tidak ada sehingga kondisi dingin. Selang seling ada potensi awan hujan dan tidak ada tutupan awan," katanya.

Iid mengatakan pihaknya memperkirakan di musim kemarau ini akan tetap ada kondisi cuaca kering, berawan dan cenderung untuk basah. Kondisi angin pun mempengaruhi potensi hujan seperti awan hujan terbentuk di wilayah timur namun terbawa angin sehingga lebih deras hujan di barat. "Dua tahun terakhir sejak pandemi tahun 2021 relatif kemarau pendek, sebentar. Tetapi tahun ini ada fenomena diawali La Nina," katanya.

Dengan kondisi saat ini, ia mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi potensi bencana seperti banjir bandang, longsor. Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat diajak untuk menjaga lingkungan sekitar.

Selain itu pihaknya mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan. Sebab kondisi cuaca yang berpotensi berubah-ubah.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement