Kamis 14 Jul 2022 19:46 WIB

Petromikia Gresik Siapkan Enam Strategi untuk Ekspansi Bisnis

Petrokimia Gresik ingin memperkuat struktur industri kimia nasional.

Petrokimia Gresik
Foto: Istimewa
Petrokimia Gresik

REPUBLIKA.CO.ID, GRESIK--Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo mengaku sudah menyiapkan enam strategi untuk ekspansi bisnis. Ia mengatakan, ekspansi bisnis ini untuk menjaga sustainability perusahaan, kemajuan pertanian, serta memperkuat industri kimia nasional.

Dwi Satriyo menuturkan, ekspansi bisnis tidak sebatas menjadi perusahaan solusi agroindustri saja, tetapi juga sentra petrochemical industry di masa mendatang. Hal ini sesuai dengan tema yang diusung dalam HUT ke-50 Petrokimia Gresik, “Beyond Infinity”.

Baca Juga

“Petrokimia Gresik membutuhkan inovasi dan transformasi yang luar biasa untuk memenangkan masa depan,” ujar Dwi Satriyo dalam keterangan, Kamis (14/7/2022).

Dirut Petrokimia Gresik menambahkan, salah satu tantangan yang kini dihadapi adalah dampak perang di kawasan Eropa yang mempengaruhi harga dan pasokan bahan baku pupuk di pasar global. Yakni, phosphate dan kalium yang merupakan bahan baku NPK dan tidak tersedia di Tanah Air. Dengan kapasitas produksi mencapai 2,7 juta ton per tahun, Petrokimia Gresik membutuhkan pasokan kedua bahan baku tersebut dalam jumlah yang besar.

 

Dwi Satriyo mengaku, strategi pertama untuk menjaga pasokan NPK di Indonesia adalah menjajaki pembangunan pabrik NPK di Yordania. Langkah strategis ini dilakukan bersama holding Pupuk Indonesia, untuk mendekatkan pabrik NPK Petrokimia Gresik dengan sumber bahan baku. Strategi kedua dan ketiga adalah peningkatan produktivitas NPK nasional dengan melakukan konversi pabrik. Yakni, dari pabrik pupuk Fosfat menjadi pabrik NPK Phonska V, serta mempersiapkan pendirian pabrik baru NPK Phonska VI.

“Ketiga langkah strategis tersebut tidak hanya akan mengamankan produktivitas NPK nasional, tapi juga memperkuat posisi Petrokimia Gresik sebagai produsen NPK terbesar di Indonesia, bahkan Asia,” tegas Dwi Satriyo.

Keempat, struktur bisnis perusahaan yang erat kaitannya dengan bahan baku gas juga menjadi perhatian Petrokimia Gresik. Dimana perusahaan akan melakukan penjajakan untuk mendapatkan suplai gas baru dari Utara Pulau Jawa. Pasokan gas ini rencananya akan dimanfaatkan untuk pengembangan pabrik Amoniak-Urea (Amurea) III.

“Jika Petrokimia Gresik berhasil memperoleh pasokan gas yang baru, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas pupuk Urea melalui pengembangan pabrik Amurea III. Sehingga ke depan kita tidak hanya menjadi leader di pasar NPK, tapi juga Urea,” ujarnya.

Strategi kelima, mendorong kemajuan industri kimia nasional. Diantaranya, pembangunan pabrik Soda Ash berkapasitas 300 ribu ton per tahun, dengan memanfaatkan produk hilir dari pabrik Amoniak-Urea berupa CO2 yang diolah menjadi bahan baku pembuatan Soda Ash.

“Nantinya ini akan menjadi produk Soda Ash pertama buatan dalam negeri untuk membantu mengurangi ketergantungan impor Soda Ash yang mencapai 1 juta ton per tahun,” ujarnya.

Strategi keenam, melakukan scale up pabrik Green Surfactant. Produk ini mendapatkan sambutan baik dari industri minyak dan gas setelah pertama kali dipasarkan pada 2021 kemarin. Green Surfactant Petrokimia Gresik, menjadi produk surfaktan pertama buatan dalam negeri yang dapat menggantikan penggunaan surfaktan berbasis hydrocarbon, sehingga lebih ramah lingkungan.

Produk ini berfungsi untuk meningkatkan produktivitas sumur minyak bumi, bahkan mampu mengeluarkan minyak mentah dari lapangan atau sumur minyak tua yang sudah tidak berproduksi lagi.

“Ini membuktikan bahwa Petrokimia Gresik tidak hanya unggul dalam ke-pioneer-an produk pupuk saja, tetapi juga produk lainnya yang dapat memperkuat struktur industri kimia nasional. Inilah kira-kira yang akan menjadi arah masa depan Petrokimia Gresik,” ujar Dwi Satriyo.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement