Jumat 10 Jun 2022 10:36 WIB

Mayoritas Pemicu Kebakaran di Jakarta Dipicu Korsleting Listrik

Pada Januari-April 2022, ada 364 kasus dari total 543 kebakaran dipicu korsleting.

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Erik Purnama Putra
Petugas berusaha memadamkan kebakaran yang terjadi di Pasar Gembrong, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Ahad (25/4/2022).
Foto: Republika/Edwin Putranto
Petugas berusaha memadamkan kebakaran yang terjadi di Pasar Gembrong, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Ahad (25/4/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta Satriadi Gunawan mengatakan, hingga saat ini, korsleting listrik masih menjadi penyebab utama kebakaran setiap tahunnya di Ibu Kota. Menurut dia, masalah arus pendek terjadi karena penggunaan perlengkapan listrik yang tidak sesuai standar.

"Apalagi kabelnya yang banyak dijual di pasaran dan standardisasinya tidak aman. Itu jadi potensi juga," kata Satriadi kepada Republika di Jakarta, Kamis (9/6/2022).

Dia menjelaskan, kondisi itu fakta yang mudah ditemukan di permukiman padat penduduk. Biasanya, jika ada satu rumah terbakar maka dengan mudah merembet ke bangunan lain. Terlebih, kala bangunan padat penduduk itu berstatus semipermanen dan dihuni banyak orang, hingga berpotensi menimbulkan korban jiwa.

"Itu biasanya jadi faktor dominan. Kebakaran di sana juga tidak lepas dari kelalaian juga, termasuk karena korsleting listrik," tutur Satriadi.

Dinas Gulkarmat DKI mencatat, frekuensi kebakaran selama 2019-2022 memang terus menurun sampai sekitar 31 persen. Kebakaran pada Januari-Maret 2019 tercatat 414 kasus, sedangkan pada Januari-Maret 2020 ada 382 kasus. Sedangkan periode Januari-Maret 2021, tercatat 331 kebakaran di Jakarta.

Khusus tahun ini, dengan rentang waktu 1 Januari-30 April 2022, menurut Satriadi, insiden kebakaran mengalami kenaikan. Berdasarkan data yang dihimpun, ada 543 kasus kebakaran di berbagai wilayah Ibu Kota.

Dia menjelaskan, dari lima wilayah kota Jakarta, dugaan penyebab listrik masih yang paling mendominasi, sekitar 364 kasus dari total 543 kejadian. Jumlah itu, disusul dugaan lainnya berupa kebakaran kendaraan hingga sampah sekitar 95 kasus dan dugaan kebakaran dari gas sekitar 66 kasus. "Untuk kategori (asap) rokok ada tujuh kasus selama empat bulan itu," jelas Satriadi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement