Rabu 08 Jun 2022 15:49 WIB

Demi Konten, Anak-Anak 'Menantang Malaikat Maut'

Media sosial harusnya men-take down konten tantangan berbajaya

Tangkapan layar video viral Malaikat Maut Challenge berakhir fatal.
Foto: Youtube
Tangkapan layar video viral Malaikat Maut Challenge berakhir fatal.

Oleh : Reiny Dwinanda, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Sepekan terakhir, dua anak masing-masing berusia 14 dan 18 tahun menjadi korban meninggal "malaikat maut challenge". Kabar duka itu berasal dari kejadian di lokasi berbeda dalam dua hari berturut-turut, yakni Kamis (2/6/2022) di Soreang, Kab Bandung, Jawa Barat dan Jumat di Karawaci, Kota Tangerang, Banten.

Tantangan mematikan ini sudah setahun lebih menyebar di media sosial. Herannya, meski korban sudah berjatuhan, peminatnya tetap saja ada.

Secara berkelompok, mereka yang rata-rata berusia remaja nongkrong di pinggir jalan, menanti truk melintas. Begitu truk sudah dekat, mereka pun menguji nyali untuk mengadang lalu adu cepat menghindari truk.

Semakin tipis kesempatan untuk menghindar, semakin terpacu adrenalinnya dan semakin "seru" kesannya. Saat temannya "menantang malaikat maut", yang lain merekam dan ikut menyoraki.

Videonya lantas diunggah di media sosial. Konten yang terngeri, paling banyak dilihat.

Jumlah views/likes yang diterima ibarat candu yang membuat mereka merasa diterima sebagai bagian dari komunitas dan terdorong untuk mengulangi "permainan" yang sama. Itulah yang dilakukan sekelompok remaja di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Mereka sudah tujuh kali mengunggah konten ekstrem itu di Youtube. Kali ke delapan, temannya tertabrak.

Tantangan-tantangan berbahaya tak pernah berhenti berseliweran di media sosial. Korbannya pun berjatuhan di banyak negara.

Di Philadelphia, Amerika Serikat, contohnya, seorang anak perempuan tewas setelah ikut "blackout challenge" yang menuntut pemainnya untuk mengunggah video saat membuat dirinya pingsan sesaat hingga kembali siuman. Gadis 10 tahun yang menguasai tiga bahasa itu sengaja membuat lehernya tercekik.

Pihak keluarga pada 12 Mei lalu mengajukan gugatan terhadap TikTok atas insiden fatal pada 7 Desember 2021 itu. Menurut TikTok, tren tantangan pingsan tersebut berawal dari platform lain.

Platform media sosial jelas tak bisa lepas tangan dalam upaya melindungi anak. Mereka memang punya mekanisme tersendiri

Tetapi, dari kasus di Philadelphia itu, media sosial dituntut lebih ketat mengatur batasan usia pengguna dan segera men-take down konten-konten tantangan berbahaya agar tak sampai menjadi viral lalu direplikasi anak, remaja, dan dewasa muda lain yang terobsesi dengan "popularitas di media sosial". Bagi pengguna lain, bantulah dengan tidak menyebarkan kontennya.

Di lain sisi, sebetulnya kita sebagai masyarakat bisa dibilang gagal melindungi anak-anak dari tren berbahaya. Apalagi malaikat maut challenge itu sudah lama ada.

Sejumlah saksi mata di tempat kejadian menuturkan, mereka sudah mengingatkan para remaja untuk tidak melakukannya. Tapi itu tidak mempan.

Polisi mengaku telah mengintensifkan patroli di daerah rawan. Tapi bisa jadi patrolinya kurang optimal.

Mengutip survei TikTok pada 2021 yang melibatkan lebih dari 10 ribu anak remaja, orang tua, dan guru dari Argentina, Australia, Brasil, Jerman, Italia, Indonesia, Mexico, Inggris, Amerika Serikat, dan Vietnam, kebanyakan anak dan remaja tidak berpartisipasi dalam tantangan yang paling berbahaya. Ada 21 persen anak remaja global yang ikut aneka tantangan dan dua persen ikutan tantangan yang dianggap berisiko. Lalu, 0,3 persen memainkan tantangan yang dinilai "sangat berbahaya".

Meski begitu, soal nyawa anak, kita tak bisa bicara angkanya sedikit atau banyak. Sebab, setiap nyawa berharga.

Bagaimana pun, perlindungan terhadap anak harus berawal dari pengasuhan yang kuat di rumah. Sesibuk apapun, orang tua perlu hadir bagi anak-anaknya.

Ayah dan ibu harus mengerti bahwa buah hatinya sedang butuh aktualisasi diri, menunjukkan eksistensinya, merasa diterima di kelompoknya, dan mencari jati dirinya. Anak, remaja, hingga dewasa muda cenderung tidak mempertimbangkan risiko perbuatannya karena otak bagian prefrontal cortex mereka belum sepenuhnya matang hingga sekitar usia 25.

Ayah dan ibu juga butuh bantuan guru, orang dewasa yang dekat dengan anak, hingga aparat untuk mengenali tren berbahaya yang menarik perhatian anak dan  membantu mereka menyadari bahayanya. Kita juga perlu menyediakan saluran yang positif untuk anak-anak mengekspresikan diri. 

 
* penulis adalah wartawan republika.co.id

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement