Senin 02 May 2022 12:17 WIB

Sampah di Hari Lebaran di Jabar Diprediksi Meningkat Hingga 1.260 Ton

Antisipasi lonjakan volume sampah menjadi upaya yang diprioritaskan pemerintah.

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Ilham Tirta
Sejumlah sampah ditumpuk di pinggir jalan (ilustrasi).
Foto: ANTARA/Rahmad
Sejumlah sampah ditumpuk di pinggir jalan (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Di balik euforia hari raya yang lebih meriah dibanding dua tahun belakangan, ada lonjakan volume sampah yang perlu diantisipasi. Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil mengatakan, selain mengantisipasi kepadatan dan kemacetan di hari raya, langkah antisipasi lonjakan volume sampah juga akan menjadi upaya yang diprioritaskan Jawa Barat.

Dia mengatakan, untuk menghalau terjadinya penumpukan sampah di hari lebaran dan pascalebaran, Pemerintah Jabar telah mengerahkan pasukan kebersihan dua kali lebih banyak. “Pasukan telah kami lipat gandakan untuk mengantisipasi penumpukan sampah, dan memastikan hitungan minimal dua jam tempat-tempat yang terlihat tumpukan sampah bisa kita bersihkan, termasuk tempat pelaksanaan Shalat Id,” ujarnya saat ditemui di Lapangan Gasibu, Kota Bandung usai pelaksanaan Sholat Idul Fitri, Senin (2/5/2022).

Baca Juga

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Dudy Prayudi memprediksi peningkatan volume sampah hingga 60 ton di hari lebaran. "Tonase di hari biasa sekitar 1.200 ton, kita prediksi peningkatan ke 1.250-1.260 ton per hari di hari lebaran," ujar Dudy.

Penambahan sampah, kata dia, tersebar di tempat wisata dan pusat kegiatan lebaran seperti takbiran, Shalat Idul Fitri, halal bihalal, dan ziarah. "Karena Kota Bandung merupakan destinasi wisata, kita antisipasi penumpukan di tempat tempat wisata. Selain itu kita juga antisipasi saat selesai Shalat Id," kata dia.

Dudy menyampaikan, pada hari H lebaran, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti ditutup. Untuk itu, ia mengimbau masyarakat menahan membuang sampah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Selain itu, ia juga meminta masyarakat menerapkan konsep Kang Pisman (Kurangi Pisahkan dan Manfaatkan Sampah) dengan memilah sampah organik dan anorganik secara mandiri.

Masyarakat bisa memisahkan sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik, kata dia, bisa diolah dijadikan pupuk kompos. Sementara untuk sampah anorganik, dikumpulkan dan bisa dikirimkan ke bank sampah yang tersebar di kelurahan dan kecamatan.

"Selain bisa mengurangi, sampah tersebut bisa kita tabung di bank sampah yang tersebar di kewilayahan dan menghasilkan nilai ekonomi tersendiri," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement