Kamis 28 Apr 2022 16:40 WIB

Survei: Tren Kepuasan Masyarakat Terhadap Kinerja Presiden Menguat

Tren kinerja presiden yang sebelumnya menurun berhenti.

 Survei: Tren Kepuasan Masyarakat Terhadap Kinerja Presiden Menguat. Foto:  Pengumuman Survei Politik/Ilustrasi
Foto: Antara
Survei: Tren Kepuasan Masyarakat Terhadap Kinerja Presiden Menguat. Foto: Pengumuman Survei Politik/Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Joko Widodo kini beranjak naik. Jika dalam empat periode terakhir mengalami penurunan, setelah mengalami kenaikan tertinggi pada Januari 2022 mencapai 75,3 persen, trennya penurunan kini berhenti. 

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, pada Januari 2022, tingkat kepuasan masyarakat berada di titik tertinggi sepanjang sejarah, yakni mencapai 75,3 persen. Kondisi ini tertangkap dari hasil survei yang dilakukan 1-6 Januari. 

Baca Juga

Namun, dalam rentang 17-30 Januari, terjadi penurunan mencapai 73,9. Penurunan tak berhenti. Pasalnya, pada Februari 2022, tingkat kepuasan publik menjadi 71,7 persen. 

Memasuki Maret 2022, tingkat kepuasan masyarakat kembali menurun menjadi 64,6. Menurut Burhanuddin, dari hasil survei yang dilakukan Indikator pada awal April, approval rating Presiden Jokowi terus menurun mencapai 59,9 persen. 

“Kini, ada perubahan yang cukup luar biasa, publik mempersepsikan lebih positif terhadap kinerja Presiden Jokowi,” kata Burhan saat menyampaikan hasil survei bertajuk Persepsi Publik Terhadap Kinerja Instansi Penegak Hukum dalam Pemberantasan Korupsi secara virtual, Kamis (28/4/2022). Survei ini dilakukan pada rentang 20-25 April 2022. 

Menurut Burhan, temuan ini sekaligus menandakan jika tren penurunan terhadap tingkat kepuasan kinerja Presiden Jokowi yang sebelumnya beberapa kali terjadi berhenti. “Approval rating Presiden Jokowi mengalami rebound. Tren penurunannya berhenti,” kata Burhan. 

Burhan menyatakan, menguatkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Jokowi setidaknya disebabkan dua hal. 

Pertama, Burhan melanjutkan, dampak keberhasilan Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkap dugaan kasus korupsi minyak goreng, termasuk menetapkan empat orang sebagai tersangka. 

Kedua, menguatnya tingkat kepuasan publik terjadap kinerja Presiden Jokowi turut dilatari keputusan pemerintah menyetop sementara ekspor CPO minyak goreng. Menurut Burhan, kasus minyak goreng sangat berhubungan dengan masyarakat banyak. 

“Resonansi perkaranya sangat beririsan dengan masyarakat luas. Karenanya, dengan keberhasilan Kejagung mengungkap dugaan korupsi minyak goreng, juga keputusan pemerintah menyetop ekspor CPO, membuat tingkat kepuasan publik meningkat dan membuat tren penurunan berhenti,” ungkap Burhan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement