Rabu 30 Mar 2022 16:05 WIB

Dinas Perdagangan: Harga Sawit Lagi Tinggi, Tapi Truknya Minum Solar Subsidi

Penjualan solar bersubsidi Padang dialihkan ke malam hari.

Sejumlah kendaraan mengantre di salah satu stasion pengisian bahan bakar umum (SPBU) lintas Nasional Lhokseumawe, Aceh. (30/3/2022). Kelangkaan solar terjadi di sejumlah SPBU daerah Aceh meski PT.Pertamina telah mensuplai sekitar 1.000 hingga 1.200 kiloliter per hari dari alokasi solar subsidi untuk Aceh tahun 2022 sebanyak 365.297 kiloliter sesuai kuota dari Pemerintah.
Foto: ANTARA/RAHMAD
Sejumlah kendaraan mengantre di salah satu stasion pengisian bahan bakar umum (SPBU) lintas Nasional Lhokseumawe, Aceh. (30/3/2022). Kelangkaan solar terjadi di sejumlah SPBU daerah Aceh meski PT.Pertamina telah mensuplai sekitar 1.000 hingga 1.200 kiloliter per hari dari alokasi solar subsidi untuk Aceh tahun 2022 sebanyak 365.297 kiloliter sesuai kuota dari Pemerintah.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG  -- Penjualan solar bersubsidi pada SPBU yang ada di Kota Padang diputuskan dialihkan ke malam hari mulai pukul 21.00 WIB. Hal itu sebagai upaya mencegah kemacetan akibat panjangnya kendaraan yang antre.

"Berdasarkan hasil keputusan rapat bersama pemangku kepentingan terkait, mulai hari ini penjualan Biosolar di SPBU dimulai pukul 21.00 WIB guna mengurangi kemacetan," kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang Andree Algamar di Padang, Sumatra Barat, Rabu (30/3/2022).

Baca Juga

Menurut dia, guna mengatasi kelangkaan, Pertamina sudah menambah kuota dengan mengalihkan kuota akhir tahun menjadi saat ini."Biasanya kebutuhan solar 280 kiloliter per hari menjadi 400 kiloliter per hari," kata dia.

Selain itu untuk mengatasi kemacetan pihak pemerintah provinsi (pemprov) menggandeng Samsat untuk mencatat nomor polisi kendaraan yang mengisi Biosolar."Kemudian Hiswana Migas juga sudah menyiapkan satgas pengawasan penyaluran solar di SPBU," kata dia.

 

Truk sawit

Ia menilai, salah satu penyebab panjangnya antrean kendaraan mengisi solar subsidi adalah karena selisih harga dengan nonsubsidi cukup tinggi hampir Rp 8.000 per liter."Apalagi yang mengisi solar subsidi kemudian adalah truk pengangkut sawit yang harga jualnya sedang tinggi-tingginya saat ini, tapi malah ikut pula antre mengisi solar subsidi," kata dia.

Terkait adanya kendaraan yang dinilai mengisi BBM subsidi namun tidak sesuai peruntukan, ia menyampaikan akan dipasang spanduk di SPBU berisi nomor pengaduan ke Direskrim Polda Sumbar. Selain itu, jika satgas telah aktif maka bisa dilakukan pengawasan agar tidak ada lagi penjualan solar subsidi menggunakan jeriken.

"Walau solar tingkat kebakaran rendah daripada Premium tapi tetap tidak bisa ditoleransi ada yang menjualnya secara eceran apalagi dekat SPBU," katanya.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement