Senin 21 Mar 2022 21:02 WIB

Siswa Berkebutuhan Khusus Belajar Baking di Hari Down Syndrome

Mereka belajar baking dengan dipandu oleh mentor dari Bogasari Baking Center.

Rep: Eva Rianti/ Red: Andi Nur Aminah
Sejumlah siswa berkebutuhan khusus (SKH) Sang Timur, Karang Tengah, Kota Tangerang mengikuti pelatihan baking, di Bogasari Baking Centre.
Foto: Bogasari
Sejumlah siswa berkebutuhan khusus (SKH) Sang Timur, Karang Tengah, Kota Tangerang mengikuti pelatihan baking, di Bogasari Baking Centre.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Sejumlah siswa jenjang SD hingga SMA dari sekolah berkebutuhan khusus (SKH) Sang Timur, Karang Tengah, Kota Tangerang mengikuti pelatihan baking, bertepatan dengan peringatan Hari Down Syndrome ke-11, Senin (21/3/2022). 

Acara yang dimentori oleh Bogasari Baking Center (BBC) tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan para siswa dengan praktik tata boga semakin terasah. Di samping itu juga untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan, mengingat hasil mata pelajaran praktik tata boga para siswa kerapkali ada yang dijual di lingkungan sekolah. 

Baca Juga

"Melalui kelas pelatihan kue kering 'Puppy Cookies' ini, Bogasari ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan para siswa SKH, khususnya down syndrome. Karena mereka berhak mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama dengan siswa normal lainnya, termasuk dalam hal enterpreneurship atau kewirausahaan," ujar Anwar Agus, Vice President Human Resources PT Indofood Sukses Makmur Tbk Divisi Bogasari dalam siaran pers, Senin (21/03/2022). 

Pelatihan tersebut diharapkan juga dapat meningkatkan pengetahuan dan menumbuhkembangkan rasa percaya diri anak-anak berkebutuhan khusus. Pelatihan-pelatihan semacam itu dinilai dapat menjadi bekal bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk bekerja di kantoran atau melanjutkan perkuliahan. 

 

Pelatihan tersebut turut dihadiri oleh pihak Pemerintah Kota Tangerang secara virtual via zoom. Wakil Wali kota Tangerang Sachrudin mengatakan, acara tersebut menjadi kesempatan yang baik, khususnya bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mendapat dukungan dan perhatian. 

"Hal ini menjadi bukti nyata sinergi bersama dalam memberikan kesempatan yang sama akan pengetahuan, pendidikan serta hak berketerampilan bagi anak-anak berkebutuhan khusus," kata Sachrudin.

Lebih lanjut, Sachrudin menuturkan, peringatan Hari Down Syndrome ini juga menjadi penggugah kesadaran bagi publik untuk semakin membuka pikiran dan peduli terhadap anak-anak berkebutuhan khusus di lingkungan sekitar. "Stigma negatif terhadap orang down syndrom bahwa mereka tidak bisa hidup mandiri sangat tidak tepat, faktanya banyak anak-anak yang berkebutuhan khusus bisa berkembang, mandiri dan berkarya untuk dirinya sendiri, tentunya hal ini dengan dukungan orang tua, keluarga dan lingkungan sekitar," ujarnya. 

Dia menambahkan, Pemerintah Kota Tangerang terus melakukan pemantauan penerapan sekolah inklusi agar manfaatnya bisa lebih banyak dirasakan kalangan tersebut. "Saat ini sudah ada 51 sekolah inklusi di Kota Tangerang di antaranya SD 47 Sekolah Inklusi dan SMP 4 Sekolah Inklusi," tutupnya. 

Diketahui, 21 Maret 2022 merupakan peringatan Hari Down yndrome Sedunia atau atau World Down Syndrome Day (WDSD) yang ke-11 dengan tema "What Does Inclusion Mean” yang artinya "Apa makna inklusi?". Tema "Inclusion Mean" dirancang sebagai momen bagi komunitas Down Syndrome Global untuk terhubung setiap tahun, sehingga semua bisa saling berbagi ide, pengalaman, maupun pengetahuan, memperdayakan satu sama lain untuk mengadvokasi hak yang sama bagi orang-orang dengan down syndrome, menjangkau pemangku kepentingan utama untuk membawa perubahan positif. 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement