Jumat 04 Feb 2022 21:51 WIB

Kakanwil Bantah Ada Oknum LP Cipinang Dibayar untuk Selundupkan HP

Seorang warga binaan sebut ada biaya Rp 1,5- Rp 2 juta untuk selundupkan HP.

Gedung LP Cipinang / Rutan Cipinang
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Gedung LP Cipinang / Rutan Cipinang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham DKI Jakarta Ibnu Chuldun membantah informasi adanya oknum petugas di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang Jakarta yang membantu penyelundupan telepon seluler ke warga binaan lapas (WBP). Pernyataan bantahan itu disampaikan setelah adanya pengakuan seorang WBP Lapas Cipinang berinisial WC yang menyebutkan para narapidana dapat memiliki telepon seluler pribadi dengan cara membayar ke oknum petugas yang membantu penyelundupan.

"Informasi ini tidak benar," kata Ibnu Chuldun di Jakarta, Jumat (4/2/2022).

Baca Juga

Sebelumnya, WC mengatakan untuk dapat menyelundupkan telepon seluler para narapidana harus mengeluarkan biaya antara Rp1,5 sampai Rp2 juta."Harganya bervariasi, antara Rp1,5 sampai Rp2 juta. Nanti setelah 'handphone' masuk juga enggak langsung keluarga yang kasih. Dikasih dulu ke tahanan pendamping (tamping) baru ke napinya. Intinya uang tutup mata petugas," ujar WC.

Dia mengatakan, pihak Lapas Cipinang menyediakan layanan komunikasi agar narapidana bisa menghubungi pihak keluarga. Tapi tidak setiap hari diberikan dan waktunya dibatasi.

Biasanya, para napi berkomunikasi dengan keluarganya untuk sekedar memberi kabar hingga meminta kiriman uang agar bisa memenuhi kebutuhan hidup selama di Lapas."Di sini kan untuk beli rokok dan sebagainya butuh uang. Kalau untuk yang enggak punya 'handphone' juga ada bantuan dari petugas. Jadi kita pinjam 'handphone', setiap telepon bayar," kata WC.

Dia mengatakan, tarif yang dipatok oleh oknum petugas untuk meminjamkan telepon seluler ke WBP bervariasi, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per satu kali telepon dengan waktu penggunaan dibatasi.

Menurutnya, mayoritas WBP pemilik telepon seluler selundupan merupakan bandar narkoba dengan masa tahanannya di atas lima tahun. Para bandar itu butuh telepon untuk menjalankan bisnisnya dari dalam."Kalau bandar itu kan mereka butuh 'handphone' untuk bisnisnya. Sebenarnya ini rahasia umum untuk orang yang pernah dipenjara. Apalagi untuk bandar narkoba besar," tutur WC.

sumber : Antara

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement