Kamis 28 Oct 2021 18:32 WIB

Menangkap Sinyal Jokowi Soal Pemimpin Muda

Kesukaan ke pemimpin muda karena perubahan gaya kepemimpinan yang disukai masyarakat.

Presiden Joko Widodo.  Presiden berpandangan, saat ini merupakan waktu bagi para kaum muda menjadi pemimpin.
Foto: Antara/Biro Pers dan Media Kepresidenan/Lukas
Presiden Joko Widodo. Presiden berpandangan, saat ini merupakan waktu bagi para kaum muda menjadi pemimpin.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rizkyan Adiyudha, Nawir Arsyad Akbar, Dessy Suciati Saputri

Pada Hari Sumpah Pemuda ini Presiden Joko Widodo menyebut saatnya kelompok muda maju menjadi pemimpin. Presiden mengatakan, generasi muda mempunyai karakter berani mengambil risiko dan merebut peluang.

Baca Juga

Ia pun berharap generasi muda Indonesia menjadi pemimpin-pemimpin yang berani mengambil inisiatif dan humanis. Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda angkat bicara terkait pidato Presiden Joko Widodo tersebut. Menurutnya, Presiden Jokowi tengah mempersiapkan suksesornya sebagai kepala negara.

"Kalau secara politik, pesan Jokowi juga bisa dianggap sinyal kepada nama-nama yang santer saat ini untuk mempersiapkan diri menjadi suksesornya. Dan itu harus ditangkap oleh mereka yang masuk radar survei hari ini," kata Hanta Yuda di Jakarta, Kamis (28/10).

Dia melanjutkan, data survei Poltracking Indonesia mencatat banyak pemimpin muda yang muncul di elektabilitas tertinggi. Dia mengungkapkan, dari enam nama teratas, ada lima calon yang bisa dikategorikan pemimpin muda.

Dia mengatakan, kelima calon itu di antaranya diisi Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sandiaga Uno. Dia melanjutkan, satu nama terakhir yakni Prabowo Subianto yang berasal generasi senior. "Dari tiga besar capres hasil survei, bisa dikatakan pemimpin ke depan berpeluang besar diisi oleh figur muda, dan di luar tiga besar sangat berpeluang menjadi cawapres," katanya.

Dia menjelaskan, jika dilihat dari syarat menjadi presiden minimal 40 tahun maka rentang usia 40 hingga sekitar 50 tahunan relevan untuk disebut sebagai pemimpin muda. Apalagi, sambung dia, sekelas Presiden sebagai karier tertinggi di politik. "Jadi di bawah 55 tahun relatif masih terbilang mudalah," katanya.

Dia mengatakan, kesukaan terhadap pemimpin muda juga tidak lepas dari mulai bergesernya gaya kepemimpinan yang disukai masyarakat. Menurutnya, gaya kaku, birokratis sudah dianggap sebagai gaya kepemimpinan lama. "Gaya itu sudah mulai ditinggalkan dengan gaya kepemimpinan cepat, energik dan responsif khas anak muda," katanya.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan atau Zulhas mengaku serius menggerakkan anak-anak muda agar terlibat aktif dalam politik. Ia melihat, upaya tersebut penting sebagai langkah mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Indonesia, kata Zulhas, akan memiliki bonus demografi, karena jumlah penduduk usia produktifnya mencapai lebih dari 60 persen. Artinya anak muda merupakan warga dominan dari masyarakat Indonesia.

"Ini adalah modal penting untuk capai kemajuan dan kejayaan Indonesia. Apa yang disebut generasi emas Indonesia 2045 itu," ujar Zulhas lewat keterangannya, Kamis (28/10).

Partai berlambang matahari itu secara serius memberikan ruang untuk generasi muda yang ingin terlibat di dunia sosial, politik, kemasyarakatan. Ia ingin mencetak pemimpin-pemimpin muda bangsa yang nanti memiliki visi kebangsaan dan keterampilan yang mumpuni.

"PAN saat ini sedang melakukan pencalegan dini, mencari calon-calon pemimpin muda. Mereka bukan hanya direkrut, tapi juga dilatih melalui program yang terstruktur dan terukur," ujar Zulhas.

Di samping itu, ia juga melihat bahwa pada 2024 sebanyai 60 persen dari daftar pemilih tetap (DPT) adalah anak-anak muda. Hal tersebutlah yang membuat PAN serius dalam melakukan rekrutmen dan kaderisasi untuk anak muda.

"Kelak lanskap politik nasional berubah. Pemilih muda dan hadirnya kandidat-kandidat politik muda akan membentuk satu kebutuhan utk menghadirkan pemimpin nasional yang muda pula," ujar Zulhas.

"PAN menyadari itu, Indonesia butuh pemimpin muda dengan visi kebangsaan yang mumpuni. Itulah kunci Indonesia maju," sambung Wakil Ketua MPR itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement