Rabu 13 Oct 2021 16:03 WIB

Pemprov DKI Upayakan Integrasi Zona Rendah Emisi

Pemprov DKI akan melakukan sejumlah langkah untuk menata kawasan LEZ.

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Ratna Puspita
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih menggodok integrasi zona emisi rendah atau low emission zone (LEZ) Kota Tua, Jakarta Barat, dengan transportasi massal dan fasilitas lain di wilayah tersebut. Ilustrasi
Foto: ANTARA/Galih Pradipta
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih menggodok integrasi zona emisi rendah atau low emission zone (LEZ) Kota Tua, Jakarta Barat, dengan transportasi massal dan fasilitas lain di wilayah tersebut. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih menggodok integrasi zona  rendah emisi atau low emission zone (LEZ) Kota Tua, Jakarta Barat, dengan transportasi massal dan fasilitas lain di wilayah tersebut. Penggodokan integrasi itu menjadi upaya DKI untuk mendukung peningkatan kualitas udara. 

"Spot LEZ memang harus diperbesar untuk meningkatkan perubahan perilaku, jika awalnya memakai transportasi pribadi, akan diupayakan supaya masyarakat bisa beralih ke moda transportasi masal," kata Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekda DKI Jakarta Afan Ardiansyah Idris dalam webinar Implementasi Zona Rendah Emisi yang diadakan WRI, Rabu (13/10).

Baca Juga

Afan mengatakan, Pemprov DKI akan melakukan sejumlah langkah untuk menata kawasan LEZ. Pertama, Pemprov DKI akan memfokuskan pengembangan transportasi publik dan integrasi antarmoda.

Saat ini, Pemprov DKI berupaya mengembangkan transportasi agar akses menuju LEZ Kota Tua dan lokasi lainnya bisa terintegrasi dengan baik. Selain fasilitas kereta api, Transjakarta dan MRT yang kini masih menuju fase dua, Pemprov DKI juga akan memaksimalkan kantong-kantong parkir.

Kedua, pengembangan aksesibilitas pedestrian dan kendaraan. Ketiga, revitalisasi kanal dan saluran drainase, dan keempat terkait penataan ruang terbuka. 

"Kami tidak berpikir hanya sampai stasiun kereta, taman-taman kita desain untuk ramah lingkungan, bisa digenangi saat hujan, tapi bisa menjadi taman saat kering," kata dia.

Strategi lainnya, yakni reaktivasi dan revitalisasi aset properti, permukiman kembali di atas aset yang terlantarkan, pengelolaan kawasan dalam kelembagaan khusus, dan penyelenggaraan kegiatan berskala internasional. "Kami masif kembangkan beberapa area dan fasilitas yang ada," tuturnya.

Ia mengatakan, langkah-langkah itu dilakukan menyusul emisi gas rumah kaca di Jakarta yang bisa mencapai 400 persen pada 2050. Ia juga menyebutkan, dasar melakukan tersebut, yakni instruksi dari Pemprov DKI menyoal rencana tersebut, jelas tertuang dalam Instruksi Gubernur (Ingub) DKI No.66 Tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara.

Penanggung Jawab Kualitas Udara di World Resources Indonesia (WRI) Muhammad Shidiq mengatakan, memang adanya upaya integrasi transportasi yang sedang digalakan Pemprov DKI merupakan rencana baik. Ia berharap, rencana integrasi berbagai fasilitas ini bisa memperbaiki LEZ. 

"Dengan mengintegrasikan banyak hal sebagai satu integrasi, diharapkan konteks LEZ bisa membaik," kata dia.

Namun, ia juga mengingatkan ada sejumlah hal yang bisa dilakukan Pemprov DKI untuk meningkatkan pengendalian kualitas udara di masyarakat. "Pertama meningkatkan pemahaman terkait pencemar dan kualitas udara, lalu mengembangkan dan mendemonstrasikan metodologi untuk memperbaiki kualitas. Ketiga, membangun koalisi mitra semua pihak," kata dia. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement