Selasa 12 Oct 2021 20:14 WIB

Asita: Permintaan Paket Perjalanan Wisata di DIY Masih Lesu

Kebanyakan wisatawan datang sendiri-sendiri tanpa gunakan jasa biro perjalanan wisata

Wisatawan menghabiskan sore di kawasan Malioboro, Yogyakarta, Senin (27/9). Selain pemberlakuan ganjil genap, di Malioboro juga diberlakukan register dengan memindai barcode Sowan Jogja. Ada 17 titik pemindaian barcode ini, di pintu utama dan pintu sirip-sirip Malioboro.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Wisatawan menghabiskan sore di kawasan Malioboro, Yogyakarta, Senin (27/9). Selain pemberlakuan ganjil genap, di Malioboro juga diberlakukan register dengan memindai barcode Sowan Jogja. Ada 17 titik pemindaian barcode ini, di pintu utama dan pintu sirip-sirip Malioboro.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan permintaan paket perjalanan wisata dari luar daerah ke provinsi tersebut masih lesu. Meski sejumlah destinasi wisata telah melakukan uji coba operasional secara terbatas.

Ketua Asita DIY Hery Satyawan menuturkan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta tak berbanding lurus dengan tingkat pemesanan jasa paket wisata di daerah itu.

"Memang terlihat banyak yang datang ke Malioboro tetapi kebanyakan datang sendiri-sendiri tanpa menggunakan jasa biro perjalanan wisata," kata Hery.

Banyaknya bus pariwisata yang masuk wilayah DIY saat akhir pekan, menurut dia, tak lantas menandakan bahwa bisnis perusahaan jasa perjalanan wisata di DIY sudah pulih.

 

"Itu bisa saja dari kelompok-kelompok masyarakat menyewa bus sendiri," kata dia.

Ia mengakui sebelum pandemi pemesanan paket perjalanan wisata di DIY didominasi oleh wisatawan mancanegara. Sedangkan pemesanan dari wisatawan nusantara atau domestik sebagian besar berasal dari perusahaan serta instansi pemerintahan.

Masih sepinya pemesanan dari rombongan karyawan perusahaan, menurut dia, dapat dimaklumi sebab tidak sedikit perekonomian perusahaan yang menurun karena terdampak pandemi.

"Dulu memang yang banyak (memesan paket wisata) tamu-tamu asing. Tapi yang dari perusahaan-perusahaan kini juga masih banyak yang sulit mengalokasikan dana untuk piknik karena masih masa pamulihan," kata dia.

Untuk kembali memulihkan tingkat okupansi biro perjalanan wisata, Hery berharap Pemda DIY dapat memberikan kejelasan peraturan sekaligus penerapan di lapangan.

"Jangan sampai kami sudah bawa tamu tapi enggak boleh masuk, ya nanti kami bisa dikomplain sama tamunya," kata dia.

Meski okupansi hotel mulai meningkat, menurut dia, masih belum memberikan andil besar terhadap pemesanan paket wisata di Yogyakarta. "Secara prinsip kami selalu siap termasuk dalam penerapan protokol kesehatan apalagi kami sudah lama tidak mendapat order," kata dia.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranawa Eryana mengakui selama PPKM level 3, okupansi hotel bintang tiga, empat, dan lima mencapai 80 persen saat akhir pekan (weekend) dan 40 persen saat hari kerja (weekdays).

Sedangkan hotel bintang dua ke bawah rata-rata 40 persen saat akhir pekan dan 15-20 persen hari kerja. Namun demikian, okupansi itu, dikatakan Deddy, sebagian besar masih didorong reservasi berbagai kegiatan pameran, seminar, atau konvensi (MICE) oleh sejumlah instansi pemerintahan yang berkegiatan di DIY.

Pembukaan secara terbatas tujuh destinasi wisata di DIY, menurut dia, belum berkontribusi signifikan terhadap okupansi hotel karena kebanyakan wisatawan yang berkunjung ke DIY hanya melakukan 'one day tour' atau berwisata sehari.

"Rombongan-rombongan bus yang ramai saat akhir pekan itu sebagian besar 'one day tour' tanpa menginap, meski ada yang menginap di hotel," kata dia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement