Jumat 08 Oct 2021 06:53 WIB

Kasus dari Berlangsungnya PTM di Tangerang Jadi 69 Orang

Pemkot tak mau bertambahnya kasus ini disebut sebagai klaster PTM.

Rep: Eva Rianti / Red: Mas Alamil Huda
Guru melakukan absensi saat pembelajaran tatap muka terbatas di SMAN 1 Kota Tangerang, Banten.
Foto: ANTARA/FAUZAN
Guru melakukan absensi saat pembelajaran tatap muka terbatas di SMAN 1 Kota Tangerang, Banten.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG – Dinas Kesehatan Kota Tangerang mencatat adanya penambahan sebanyak 42 kasus baru Covid-19 pada warga sekolah di Kota Tangerang. Dengan begitu, jumlah kasus Covid-19 yang ditemukan dari berlangsungnya pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas berjumlah 69 kasus dari sebelumnya 27 kasus.

Temuan itu berdasarkan hasil skrining tes Covid-19 yang digelar di 53 sekolah yang menerapkan PTM terbatas. Hasilnya, dari 2.683 sampel ditemukan 42 kasus baru terkonfirmasi positif dari 20 sekolah, sehingga menjadi 69 kasus dari sebelumnya ditemukan 27 kasus dari 15 sekolah.

“Totalnya ada 69 warga sekolah terkonfirmasi positif dari 35 sekolah. Di antaranya dua guru, satu petugas TU (tata usaha), dan 66 siswa,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Dini Anggraeni dalam keterangannya, Jumat (8/10).  

Dini mengatakan, kondisi puluhan warga sekolah tersebut termasuk orang tanpa gejala (OTG). Adapun, nilai cycle threshold (CT)-nya di atas 35. “Semua ditemukan dalam kondisi tidak bergejala dengan rata-rata CT value-nya di atas 35, artinya potensi penularannya sangat rendah,” terangnya.

Meski santer jumlah kasus Covid-19 bermunculan dan kian bertambah seiring dengan berlangsungnya PTM terbatas, Dini mengeklaim hasil temuan kasus konfirmasi positif Covid-19 itu bukan klaster PTM terbatas. Sebab, menurut penuturannya, yang ditemukan hanya satu kasus dalam satu kelas atau satu kasus dalam satu sekolah.

Baca juga : Vaksinasi Targetkan Disabilitas, Lansia dan ODGJ di Bekasi

“Bahkan, hasil tracing kontak erat hingga 2 Oktober hanya ditemukan lima kasus. Tiga merupakan kontak erat keluarga dan dua kontak erat sekolah. Namun, itu semua dari alur tracing atau kontak erat yang berbeda-beda, tidak dalam satu jaringan kontak erat,” terangnya.

Dini menuturkan, hasil tracing paparan Covid-19 kemungkinan ditemukan dari berbagai hal atau sumber, seperti dari rumah, bepergian ke luar kota, interaksi sosial, hingga bepergian ke mal atau pusat perbelanjaan. “Maka sekali lagi ini bukan klaster PTM terbatas. Dukungan orang tua sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan pelaksanaan PTM terbatas, untuk menjaga prokes di rumah dan lingkungan sekitar,” lanjutnya.

Dini mendorong para pelajar dan anggota keluarganya untuk dapat mengikuti vaksinasi Covid-19, terutama bagi sekolah-sekolah yang sudah menerapkan PTM terbatas. Pasalnya, dia menyebut vaksinasi cukup memberikan gambaran dengan data yang akurat bahwa dengan capaian vaksinasi yang tinggi, positivity rate PTM terbatas sangat kecil dan CT value yang cukup tinggi.

“Vaksinasi sangat mendukung PTM dan menjaga anak-anak Kota Tangerang dari paparan virus Covid-19 kategori berat. Mereka yang ditemukan terpapar kini hanya menjalani isolasi mandiri di rumahnya masing-masing,” kata dia.

Dini memastikan pihaknya akan terus melangsungkan tracing swab acak di sekolah yang telah menerapkan PTM terbatas. Setelah itu, tracing acak juga dipastikan akan terus berlangsung secara berkala untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang lebih luas di lingkungan sekolah.

Baca juga : Sultan Soroti Lambannya Vaksinasi di Gunungkidul dan Bantul

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement