Ahad 22 Aug 2021 14:06 WIB

Pengamat Nilai Ada Kerenggangan Hubungan Jokowi dan PDIP

Kerenggangan Jokowi-PDIP disebut berkaitan dengan Pilpres 2024 mendatang.

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Agus raharjo
Joko Widodo (Jokowi) bersama Megawati Sukarnoputri
Foto: antara
Joko Widodo (Jokowi) bersama Megawati Sukarnoputri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menangkap adanya sinyal kerenggangan hubungan antara Presiden Joko Widodo dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Hal inilah yang membuat beberapa kader partai tersebut kerap mengkritik Jokowi dalam beberapa waktu terakhir.

Kerenggangan antara Jokowi dan PDIP, kata Ujang, dapat disebabkan dinamika politik yang terjadi belakangan ini. Termasuk kaitannya dengan Pilpres 2024, di mana kedua pihak dinilai berbeda dukungan. "Ada kaitannya (dengan Pilpres 2024), tak ada asap jika tak ada api, dan jika PDIP diam saja maka bisa karam di 2024," ujar Ujang saat dihubungi, Ahad (22/8).

Meski begitu, kerenggangan antara Jokowi dengan PDIP tak hanya terjadi sekali ini saja. Hubungan keduanya naik-turun melihat dinamika politik yang terjadi dan kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintahan saat ini.

"Selalu pasang surut dan naik turun. Lihat saja, ketika pembentukan kabinet jilid pertama tahun 2014. Begitu kabinet baru dilantik, PDIP langsung tancap gas kritik Jokowi," ujar Ujang.

 

Ia melihat, ada potensi Jokowi dan PDIP akan berjalan masing-masing di kemudian hari. Meskipun, ia menilai hal tersebut merupakan sesuatu yang lumrah dalam perpolitikan Indonesia. "Persoalan tersebut merupakan hal biasa di dunia politik. Mereka akan main masing-masing dan dalam politik itu hal biasa," ujar Direktur Eksekutif Indonesia Political Review itu.

Sebelumnya, Presiden ke-5 Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengaku prihatin kepada Presiden Joko Widodo yang kerap mendapatkan kritik masyarakat yang tidak beretika. Menurut dia, Jokowi yang semakin kurus karena memikirkan rakyat tak pantas di-bully.

"Coba lihat Pak Jokowi. Saya suka nangis lho. Beliau itu sampai kurus. Kurus kenapa. Mikir kita. Mikir rakyat. Masak masih ada yang mengatakan Jokowi kodok lah. Orang itu benar-benar tidak punya moral. Pengecut, saya bilang," ujar Megawati saat memberikan sambutan peletakan batu pertama pembangunan perlindungan kawasan suci Pura Besakih, Bali secara daring, Rabu (18/8).

Sementara, Jokowi Mania Nusantara (Joman) mengaku tak ingin terjebak dalam dinamika yang terjadi di PDIP. Ketua Umum Joman, Immanuel Ebenezer mengaku, mereka lebih menjagokan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, ketimbang Puan Maharani untuk maju di Pilpres 2024. "Kita mendukung Ganjar untuk di 2024," ujar Immanuel Ebenezer.

Dukungan Joman diberikan bukan karena elektabilitas Ganjar yang tinggi, melainkan kerjanya yang lebih dirasakan sebagai Gubernur Jawa Tengah. Apalagi, ia dikenal sebagai salah satu sosok pemimpin muda yang dekat dengan masyarakat. "Pak Ganjar layak meneruskan kepemimpinan 2024 nanti pasca-Presiden Jokowi. Makanya kita deklarasikan diri kita dukung Pak Ganjar 2024 nanti," ujar Noel.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement