Rabu 18 Aug 2021 07:02 WIB

HUT RI Momentum Lanjutkan Perjuangan Merdeka dari Pandemi

Kesembuhan yang harus terus ditingkatkan agar kematian dapat ditekan

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Hiru Muhammad
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kedua kiri) didampingi Kepala BNPB Ganip Warsito (kanan) saat berkunjung di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Selasa (17/8/2021). Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengapresiasi kinerja para tenaga kesehatan baik dari TNI-Polri, Dokter, non tenaga kesehatan hingga relawan yang merawat pasien COVID-19 yang hingga (17/8/2021) berjumlah sekitar 1.500 orang pasien terkonfirmasi positif yang menjalani rawat inap di RSDC Wisma Atlet.
Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kedua kiri) didampingi Kepala BNPB Ganip Warsito (kanan) saat berkunjung di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Selasa (17/8/2021). Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengapresiasi kinerja para tenaga kesehatan baik dari TNI-Polri, Dokter, non tenaga kesehatan hingga relawan yang merawat pasien COVID-19 yang hingga (17/8/2021) berjumlah sekitar 1.500 orang pasien terkonfirmasi positif yang menjalani rawat inap di RSDC Wisma Atlet.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Hari Kemerdekaan RI ke-76 tahun menjadi momentum tepat bagi bangsa untuk melanjutkan perjuangan agar merdeka dari pandemi Covid-19. Melihat kilas balik perjuangan 1,5 tahun terakhir, Indonesia telah melalui 2 kali masa puncak kasus pandemi di 2021 dan angka kematian meningkat yang cukup tinggi dalam kurun waktu yang cepat.

Namun demikian, perjuangan bangsa membuahkan harapan, di mana angka kesembuhan terus meningkat. Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito memaparkan, puncak kasus pertama terjadi pada 25 Januari 2021, mencapai 89.083 kasus dalam 1 minggu.

Dalam menghadapi gelombang puncak kasus pertama ini, pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa - Bali dan PPKM Mikro nasional."Kebijakan tersebut berhasil menurunkan kasus hingga ke titik terendah," kata dia saat konferensi pers.

Ia melanjutkan, penurunan kasus dari puncak pertama hingga ke titik terendah terjadi pada 10 Mei 2021 dengan total kasus 26.088 kasus per minggu atau turun 29,29 persen dari puncak kasus pertama. Wiku menyebut, pemerintah pun telah menyiapkan berbagai upaya antisipasi untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus kedua.

 

Seperti melakukan antisipasi lonjakan kasus pada masa Idul Fitri, mencegah masuknya varian dari luar negeri, menekan mobilitas penduduk, fluktuasi daya juang dalam mempertahankan kedisiplinan protokol kesehatan, strategi vaksinasi, serta peran dan respon pemerintah daerah dalam koridor PPKM yang juga diwarnai berbagai mutasi dari Covid-19 itu sendiri.

"Dinamika ini membawa kita pada tantangan yang lebih berat, yaitu kasus yang sebelumnya sudah berhasil dikendalikan, kembali mengalami lonjakan yang signifikan," tambah Wiku.

Puncak kedua terjadi pada 12 Juli dengan 349.308 kasus per minggu. Lonjakan ini bertambah dalam waktu 1 minggu atau meningkat 92,5 persen dari titik terendah.

Kasus puncak kedua ini mencapai 4 kali lipat dari puncak pertama hanya dalam kurun waktu 1,5 kali lebih cepat dibanding puncak pertama. Jika dihitung waktu secara per minggu, maka kasus puncak kedua membutuhkan waktu 9 minggu jika dibandingkan puncak pertama yang butuh waktu 13 minggu.

Dalam menghadapi lonjakan kedua, pemerintah menerapkan kebijakan yang lebih ketat yakni PPKM Darurat, PPKM Mikro dan dilanjutkan PPKM Mikro Level 4 yang dimulai secara bertahap sejak 3 Juli 2021. Perubahan kebijakan ini, kata dia, menuntut semua lapisan masyarakat untuk berjuang dan mengorbankan berbagai hal demi menghindari kenaikan kasus terus terjadi.

Upaya dan sinergi dari seluruh lapisan masyarakat hingga minggu lalu membuat kasus positif nasional mingguan telah mengalami penurunan selama 4 minggu berturut-turut atau turun sebesar 41,6 persen dari puncak kedua.

"Ini adalah perkembangan yang baik, meskipun jumlah kasus masih tinggi jika dibandingkan sebelum lonjakan kasus pada Mei lalu," imbuh Wiku.

Meski demikian, perjuangan melawan pandemi ini belum berakhir. Karena hingga saat ini, laju penambahan kasus masih tajam di mana kasus positif yang mulanya membutuhkan waktu 1 tahun untuk mencapai angka 1,5 juta, namun dengan cepat bertambah menjadi 2 juta dalam waktu 3 bulan dan terus mengalami percepatan hingga 3,5 juta dalam waktu sekitar 2 bulan.

Begitupun kasus kematian, di mana sebelumnya membutuhkan waktu 1 tahun mencapai angka 40 ribu jiwa, mengalami percepatan hingga 50 ribu dalam waktu 2 bulan, mencapai 60 ribu dalam waktu 1 bulan dan mencapai 110 ribu atau 2 kali lipat dalam 1 bulan terakhir.

Adanya peningkatan jumlah kasus ini mendorong pemerintah meningkatkan angka kesembuhan. Upaya ini pun berhasil memingkatkan kesembuhan secara pesat selama 2 bulan terakhir. Angkanya mencapai 2 juta dan 3 juta kesembuhan dalam kurun waktu 2 bulan.

Angka kesembuhan yang juga mengalami percepatan menunjukkan kemampuan bangsa menyesuaikan diri dalam mengambil langkah-langkah pengendalian yang semakin responsif dan tepat sasaran."Meskipun tantangan pandemi tidak semakin mudah. Ke depannya, kesembuhan ini yang harus terus ditingkatkan agar kematian dapat ditekan semaksimal mungkin," ujar Wiku.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement