Selasa 10 Aug 2021 18:53 WIB

China Pun Merasakan Amukan Varian Delta

Kasus Covid-19 varian Delta pertama kali ditemukan Bandara Lukou, Nanjing.

Pria yang mengenakan masker berjalan di stasiun kereta api di Shanghai, Cina, 29 Juli 2021. Cina melaporkan 24 kasus baru COVID-19 yang ditularkan secara lokal, menurut Komisi Kesehatan Nasional. Lebih dari 170 orang telah didiagnosis dengan varian Delta. Wabah utama terjadi di kota timur Nanjing, di provinsi Jiangsu.
Foto:

Kenapa penyebaran varian Delta dari Nanjing begitu masif, bahkan dampaknya lebih dahsyat? Pertanyaan itu tidak terlontar begitu saja tanpa ada fakta pembanding.

Kemunculan Delta di Nanjing justru lebih belakangan ketimbang kasus yang terjadi di Ruili dan Guangzhou. Apalagi , Nanjing juga bukan hub utama arus kedatangan penerbangan internasional, seperti Guangzhou, dan bukan pula jalur lintas-batas seperti Ruili.

Klaster Nanjing muncul ketika China sudah menyuntikkan lebih dari 1,7 miliar dosis vaksin. Jadi, jangkauan vaksinasi di China lebih besar dibandingkan sebelum munculnya klaster Nanjing.

Apalagi, jika mencermati pernyataan pakar penyakit menular pernapasan akut Prof. Zhong Nanshan, bahwa munculnya kasus di Guangzhou pada Mei lalu disebabkan karena cakupan vaksinasi yang belum maksimal. Namun, kasus yang berawal dari hasil tes mendadak pada 20 Juli malam di Bandara Lukou, setelah kedatangan maskapai Air China nomor penerbangan CA910 dari Rusia itu, ternyata berdampak luar biasa.

Fakta mengejutkan muncul di Zhangjiajie, kota di Provinsi Hunan yang populer hingga mancanegara karena menjadi latar belakang film "Avatar". Ketenangan kota wisata perbukitan di wilayah tengah China itu tiba-tiba berubah menjadi kepanikan.

Sebuah pertunjukan seni di gedung teater kota itu, yang memukau 2.000 penonton dari berbagai daerah di China, berubah menjadi ajang menakutkan setelah ratusan orang dinyatakan positif. Dalam sekejap kota wisata Zhangjiajie menjelma menjadi kota karantina bagi warga setempat dan wisatawan yang terperangkap dalam skema lockdown.

Beijing, yang sejak pandemi melanda China pada awal 2020 sampai sekarang, terus dijaga kesterilannya juga tak luput dari dampak klaster Nanjing. Sedikitnya enam warga ibu kota China itu terinfeksi Covid-19 varian Delta dan memaksa otoritas setempat memperketat akses keluar-masuk kota.

Dua bandara internasional di Beijing menangguhkan sementara puluhan jadwal penerbangan, terutama relasi Nanjing dan Zhangjiajie. Dari kedua kota itulah warga Beijing tertular.

"Warga Beijing tidak boleh melakukan perjalanan ke kota-kota tempat terjadinya epidemi. Hotel dan warga juga tidak boleh menerima tamu orang-orang yang memiliki riwayat perjalanan di kota-kota epidemi," demikian pesan singkat yang diterima Antara dari otoritas Pemerintah Kota Beijing, Jumat (6/8).

Pola penyebaran varian Delta dari Nanjing ini hampir sama dengan kasus pertama Covid-19 yang ditemukan di Wuhan, Provinsi Hubei, pada awal 2020. Kesamaannya terletak pada faktor timing dan magnitude.

Jika kasus pertama Covid-19 ditemukan di Wuhan menjelang liburan musim dingin, maka Delta di Nanjing terjadi pada liburan musim panas. Pada musim liburan sekolah tersebut, mobilitas masyarakat China sangat tinggi.

Virus varian Delta terbang bersama para penumpang pesawat dari Nanjing, demikian hasil pelacakan otoritas setempat tentang adanya sekelompok wisatawan domestik dari Shenyang, Provinsi Liaoning, yang transit di Bandara Lukou sebelum melanjutkan perjalanan ke Zhangjiajie. Liburan musim panas yang merupakan liburan akhir semester bagi pelajar di China sampai saat ini masih berlangsung.

Harapan didatangi jutaan wisatawan yang sudah di depan mata harus kandas begitu saja. Pemecatan 35 pejabat publik di Nanjing dan Zhangjiajie serta penangkapan dua warga yang dianggap memicu terjadinya penyebaran wabah baru tidak banyak menolong para pelaku industri pariwisata.

Pulihnya industri pariwisata setelah gagal mengisi pundi-pundi pada libur musim dingin atau Imlek awal tahun ini tinggal harapan belaka. Sektor ikutan lainnya, seperti transportasi dan akomodasi, ikut terpukul setelah sejumlah pemerintah provinsi mengeluarkan imbauan kepada warga agar tidak meninggalkan kota sampai situasi benar-benar terkendali.

Pembatalan pemesanan tiket pesawat dan hotel melalui aplikasi Qunar.com pada tanggal 29 Juli saja mencapai empat kali lipat lebih tinggi daripada hari-hari biasa.

"Harapan bangkitnya pasar pariwisata pada musim panas ini suram. Pendapatan sektor pariwisata dari berbagai objek di wilayah tengah dan timur anjlok lebih dari 50 persen," kata Manajer Pemasaran CYTS Tours Holding Co, Xu Xiaolei.

Kalau saja tidak ada klaster Nanjing, dia yakin pasar wisata domestik di China akan pulih 90 persen.

photo
Infografis Tim WHO Investigasi Virus Corona di China - (Republika)

sumber : Antara/Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement