Jumat 06 Aug 2021 13:43 WIB

Pertumbuhan Ekonomi DKI di Bawah Anies Capai 10,91 Persen

Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta jauh di atas nasional yang ada di angka 7,07 persen

Rep: Flori Anastasia Sidebang/ Red: Erik Purnama Putra
Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Kamis (25/4) pagi.
Foto: Mimi Kartika/REPUBLIKA
Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Kamis (25/4) pagi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta tumbuh melesat sebesar 10,91 persen secara year on year (YoY) pada kuartal kedua 2021. Capain tersebut membuat wilayah yang dipimpin oleh Gubernur Anies Rasyid Baswedan melebihi rata-rata nasional.

Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda Provinsi DKI Jakarta, Sri Haryati menyampaikan, terima kasih atas capaian positif itu. Dia mengapresiasi atas kerja keras berbagai pihak yang telah membantu Pemprov DKI Jakarta menyelamatkan ekonomi dari jurang resesi.

Sri menuturkan, selama empat kuartal ke belakang, pertumbuhan ekonomi di Ibu Kota nilainya minus. "Alhamdulillah, atas kerja keras kita bersama, pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta pada kuartal kedua2021 nilainya positif dan tumbuh double digit secara YoY, yakni 10,91 persen," kata Sri dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (5/8).

Sri menjelaskan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, didorong oleh beberapa faktor. Di antaranya, momentum Idul Fitri 1442 Hijriyah, pemberian tunjangan hari raya (THR) dan gaji ke-13 bagi PNS dan pensiunan, serta relaksasi perpajakan kendaraan bermotor (PPnBM) yang dilakukan sejak Maret 2021.

Sementara itu, produk domestik regional bruto (PDRB) harga berlaku DKI Jakarta pada kuartal kedua 2021 sebesar Rp 721,5 triliun. Pada PDRB menurut lapangan usaha, industri pengolahan penyumbang sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 2,54 persen.

Kemudian, bidang perdagangan sebesar 2,01 persen, industri penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 1,59 persen. Lalu, industri transportasi dan pergudangan sebesar 1,25 persen dan lain-lain sebesar 3,51 persen.

Sedangkan, pada PDRB menurut pengeluaran, pengeluaran konsumsi rumah tangga (PKRT) menjadi penyumbang tertinggi untuk pertumbuhan ekonomi di DKI, dengan kontribusi sebesar 5,14 persen.

Sementara itu, pengeluaran konsumsi pemerintah berkontribusi sebesar 3,01 persen, pembentukan modal tetap bruto berkontribusi sebesar 2,05 persen dan lainnya sebesar 0,71 persen. Menurut Sri, PKRT tumbuh cukup tinggi pada kuartal kedua 2021.

Kondisi itu terjadi karena didorong fenomena jumlah pelanggan listrik untuk rumah tangga tumbuh positif, jumlah pengunjung rekreasi meningkat, dan konsumsi internet rumah tangga untuk Pendidikan dan pekerjaan meningkat. "Hal ini seiring dengan adanya kebijakan bekerja dari rumah (WFH) dan sekolah dari rumah (SFH)," ujar Sri.

Berdasarkan rilis BPS, pertumbuhan ekonomi secara nasional di angka 7,07 persen di DKI pada kuartal kedua 2021. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi di Jakarta lebih banyak 3,84 persen dari pertumbuhan rata-rata nasional.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement