Kamis 05 Aug 2021 19:46 WIB

Ini Kritik Mahasiswa pada Luhut Saat Rapat Penanganan Covid

BEM dari sejumlah universitas diundang dalam rapat koordinasi penanganan Covid-19.

Rep: Mimi Kartika/ Red: Bayu Hermawan
Ketua BEM UI, Leon Alvinda Putra.
Foto: Dok pribadi
Ketua BEM UI, Leon Alvinda Putra.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari sejumlah universitas diundang dalam rapat koordinasi penanganan Covid-19 mengenai testing dan tracing yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada Pada Selasa (3/8) sore lalu. Dalam rapat tersebut, mahasiswa memberikan beberapa kritik solutif.

"Pertama, perlunya peningkatan jumlah tracer yang bisa dilakukan dengan pelibatan mahasiswa dalam penambahan tenaga digital tracer," ujar Ketua BEM Universitas Indonesia (UI), Leon Alvinda Putra, yang juga mewakili BEM Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (KM UGM), BEM Universitas Airlangga (Unair), dan Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (KM ITB), dalam rilis pers yang diterima Republika.co.id, Kamis (5/8).

Baca Juga

Kedua, pelibatan mahasiswa perlu dilengkapi dengan pembimbingan, perlindungan, dan apresiasi yang jelas serta pengintegrasian dengan program Kampus Merdeka untuk mengurangi beban akademik relawan. Ketiga, adanya perbaikan koordinasi antara Dinas Kesehatan Daerah dan program relawan seperti Relawan Covid-19 (RECON).

Hal itu dilakukan agar tidak ada lagi relawan tracer yang belum dapat bekerja akibat belum ditempatkan oleh Dinas Kesehatan terkait di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Pemerintah daerah perlu memastikan kegiatan relawan ini berjalan.

Keempat, perlunya standardisasi kualitas tracer di Puskesmas dengan pelatihan sumber daya manusia dan komunikasi kebijakan yang jelas. Hal ini agar tidak ada perbedaan standar tracing di lapangan.

Kelima, perluasan akses testing gratis. Caranya dengan memperbaiki dan melakukan contact tracing secara masif, sehingga testing gratis tepat sasaran dan dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat yang terpapar.

"BEM UI, BEM KM UGM, BEM Unair, dan KM ITB akan terus memberikan kritik solutif dalam mengawal implementasi kebijakan penanganan pandemi Covid-19 oleh pemerintah," kata Leon.

BEM UI juga mewakili Aliansi Pengawalan Covid-19 yang terdiri dari BEM UI beserta perhimpunan mahasiswa lainnya dari sejumlah fakultas di UI, bersama BEM Unair dan KM ITB, juga menyampaikan kajian terkait evaluasi dan rekomendasi penanganan pandemi Covid-19. Kajian ini dapat diakses melalui bit.ly/EvaluasiDanRekomendasiPenangananCOVID-19.

"Evaluasi yang diberikan diharapkan bisa membantu penanganan pandemi Covid-19 dan bermanfaat bagi masyarakat yang terdampak," tutur Leon.

Selain perwakilan mahasiswa, rapat tersebut juga dihadiri kementerian/lembaga terkait, antara lain TNI, Polri, pemerintah daerah, serta berbagai pakar serta ahli lain, seperti Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), profesor dari beberapa universitas, termasuk ekonom Faisal Basri.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement