Jumat 04 Jun 2021 16:29 WIB

Arkeolog Temukan Alat Permainan Anak di Situs Dingkel

Temuan ini memperkuan dugaan bahwa situs Dingkel tadinya merupakan kawasan permukiman

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Andi Nur Aminah
Para arkeolog menyimpulkan bangunan kuno yang sedang dilakukan ekskavasi di situs Candi Dingkel Desa Sambimaya, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, sudah menerapkan teknologi tahan gempa. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya lapisan pecahan bata halus (gravel) yang mengelilingi lantai dasar bangunan.
Foto: Istimewa
Para arkeolog menyimpulkan bangunan kuno yang sedang dilakukan ekskavasi di situs Candi Dingkel Desa Sambimaya, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, sudah menerapkan teknologi tahan gempa. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya lapisan pecahan bata halus (gravel) yang mengelilingi lantai dasar bangunan.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Tim arkeolog yang sedang melakukan ekskavasi di situs Blok Dingkel, Desa Sambimaya, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, menemukan alat permainan anak-anak berupa gacuk. Temuan itu memperkuat dugaan bahwa situs Dingkel yang tengah dilakukan ekskavasi, merupakan kawasan permukiman.

Gacuk, yang merupakan mainan tradisional anak-anak dari gerabah itu, ditemukan di kotak ekskavasi B6 S7 oleh tim arkeolog. Mainan tersebut ditemukan di kedalaman 170 cm oleh arkeolog dan tenaga lokal yang melakukan ekskavasi.

Baca Juga

Ketua tim ekskavasi arkeologi situs Dingkel Sambimaya, Nanang Saptono, menjelaskan, temuan gacuk itu sangat penting untuk dapat mengungkap keberadaan situs Dingkel pada masa lalu. "Gacuk yang ditemukan di Indramayu itu memiliki fungsi sakral dan profan," terang Nanang.

Selain berfungsi sebagai alat permainan anak-anak, gacuk juga bisa sebagai alat penunjang dalam upacara keagamaan. Seperti misalnya acara tujuh bulanan bagi calon ibu yang akan melahirkan.

Nanang memastikan, gacuk tersebut biasa ditemukan di areal permukiman. Sama halnya dengan temuan gacuk di situs permukiman di daerah Trowulan, Batujaya, dan situs-situs permukiman lainnya di Indonesia.

Selain temuan tersebut, tim juga menemukan fragmen gerabah gores. Temuan itu dimungkinkan memiliki kesamaan dengan gerabah yang ditemukan di situs Buni Bekasi.

Terkait temuan fragmen gerabah gores, Nanang belum dapat memastikan apakah di Sambimaya juga memiliki tradisi penggunaan gerabah seperti di situs Buni ataukah tidak. 

Nanang menggambarkan, gerabah gores yang ditemukan di situs Buni memiliki fungsi pengunaan yang berbeda. Seperti misalnya, sebagai wadah bekal kubur dan sebagai alat penunjang dalam memasak sehari hari. "Fragmen gerabah gores yang kita temukan di situs ini perlu ada kajian lanjutan terkait fungsinya pada masa lalu," terang Nanang. 

Sementara itu, dalam kegiatan ekskavasi di situs Dingkel Sambimaya selama ini, tim arkeolog sudah menggali tiga kotak ekskavasi. Di masing-masing kotak, tim berhasil menemukan dinding struktur bangunan, sudut struktur bangunan, dan fragmen gerabah lokal dalam jumlah yang banyak.

Pada ekskavasi kali ini, tim memperkirakan ada tiga bangunan yang saling berdekatan. Hanya saja, tim arkeologi dari Balar Bandung dan BPCB Banten belum dapat menginterpretasikan apakah bangunan itu berfungsi sebagai bangunan suci atau hanya sebagai rumah tinggal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement