Kamis 22 Apr 2021 16:33 WIB

Angka Kematian Ibu di Jateng saat Pandemi Meningkat

Angka Kematian Ibu meningkat dengan alasan ibu hamil takut ke fasilitas kesehatan

Rep: Binti Sholikah/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Petugas medis menata bilik untuk persalinan di Puskesmas Kaligangsa, Tegal, Jawa Tengah, Senin (4/1/2021). Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Tengah pada 2020 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Meningkatnya kasus kematian ibu pada 2020 lantaran selama pandemi Covid-19 masyarakat, termasuk ibu hamil, takut mengunjungi fasilitas kesehatan.
Foto: Antara/Oky Lukmansyah
Petugas medis menata bilik untuk persalinan di Puskesmas Kaligangsa, Tegal, Jawa Tengah, Senin (4/1/2021). Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Tengah pada 2020 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Meningkatnya kasus kematian ibu pada 2020 lantaran selama pandemi Covid-19 masyarakat, termasuk ibu hamil, takut mengunjungi fasilitas kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Tengah pada 2020 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Meningkatnya kasus kematian ibu pada 2020 lantaran selama pandemi Covid-19 masyarakat, termasuk ibu hamil, takut mengunjungi fasilitas kesehatan.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah, Siti Atikoh, menyebutkan, pada 2017 terjadi penurunan yang signifikan terhadap kasus kematian ibu. Jumlah kasus kematian ibu pada 2017 sebanyak 475 kasus, dibandingkan 2016 yang mencapai 602 kasus. Angka tersebut terus turun menjadi 421 kasus pada 2018 dan 416 kasus pada 2019.

"Yang perlu kita waspadai ketika pandemi ini angka kematian ibu melahirkan kembali meningkat. Ada 530 kasus kematian ibu melahirkan pada 2020," jelas istri Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tersebut dalam acara Talkshow Virtual Spesial Hari Kartini bertema Perempuan di Garda Terdepan Pembangunan, Kamis (22/4).

Oleh sebab itu, Siti Atikoh meminta kepada pemangku kepentingan di Jawa Tengah agar menggiatkan kembali Program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng atau 5Ng untuk keselamatan ibu dan bayi sejak hamil hingga melahirkan.

 

Dia juga menyebut, RA Kartini memperjuangkan kesehatan tetapi meninggal empat hari setelah melahirkan putranya. Saat itu, ilmu pengetahuan dan teknologi terkait kesehatan belum semaju sekarang.

Spirit yang diperjuangkan RA Kartini tersebut, lanjutnya, dengan derajat kesehatan permepuan yang terjamin maka SDM bayi terjamin. "Harusnya menjadi spirit kita bagaimana melindungi perempuan dengan derajat kesehatan yang lebih tinggi," imbuhnya.

Selain kasus kematian ibu, hal lain yang perlu diwaspadai yakni stunting pada balita. Selama pandemi Covid-19, masyarakat takut mengakses pelayanan kesehatan. Selain itu, kegiatan masyarakat dibatasi pada awal pandemi.

"Remaja anemia juga masih tinggi, sekitar 30 persen, punya potensi juga ketika mengandung nanti anaknya berat badan lahir rendah (BBLR) dan punya potensi untuk stunting. Kita targetnya mewujudkan generasi emas pada 2045, kalau terjadi kasus stunting tidak bisa di-recovery, kita hanya bisa mencegah," terangnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement