Senin 05 Apr 2021 13:46 WIB

Anies Sebut 1,8 Juta Orang di Jakarta Sudah Vaksinasi

Sebanyak 53,8 persen kelompok lansia telah menerima suntikan vaksin covid-19

Rep: Flori Sidebang/ Red: Esthi Maharani
Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan.
Foto: @aniesbaswedan
Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, program vaksinasi Covid-19 bagi kelompok prioritas, seperti tenaga kesehatan, petugas pelayanan publik hingga masyarakat lanjut usia (lansia) masih berlangsung. Dia menyebut, hingga saat ini sebanyak 1,8 juta orang di Jakarta telah divaksinasi.

"Di Jakarta sudah 1,8 juta orang mendapatkan vaksinasi," kata Anies di Balai Kota Jakarta, Senin (5/4).

Anies menjelaskan, sebanyak 53,8 persen kelompok lansia telah menerima suntikan vaksin covid-19. Ia menuturkan, hal ini sejalan dengan rencana Pemprov DKI yang akan melaksanakan uji coba sekolah tatap muka secara terbatas beberapa waktu mendatang.

Menurut Anies, selain para pengajar atau guru yang mendapatkan vaksinasi, para lansia di rumah juga menjadi prioritas utama. Sebab, untuk mencegah terjadinya penularan virus corona saat para siswa kembali melakukan sekolah tatap muka.

"Di rumah yang anaknya berangkat sekolah, kakek neneknya harus tervaksinasi, karena kalau cucunya pergi ke sekolah, pulang dia selalu berpotensi membawa keterpaparan. Nah, karena itulah vaksinasi orang tua itu penting," jelas Anies.

Baca juga : Anies: Insya Allah Pekan Ini Saya akan Vaksinasi Covid-19

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI akan melakukan uji coba pembelajaran tatap muka di 100 sekolah mulai 7 April hingga 29 April 2021. Dari 100 sekolah itu, 42 di antaranya adalah sekolah dasar (SD).

"Kandidat sekolah yg akan mengikuti uji coba adalah 100 sekolah terdiri dari sekolah negeri dan swasta," kata Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan DKI Jakarta Momon Sulaeman kepada Republika, Ahad (4/4).

100 sekolah itu, kata dia, terdiri atas lima Madrasah, satu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan 42 SD. Lalu 13 SMP, 9 SMA, dan 30 SMK.

Momon menjelaskan, uji coba ini hanya diperuntukkan untuk siswa kelas 4, 5, dan 6 SD. Lalu untuk siswa kelas 7, 8, dan 9 SMP serta siswa kelas 10, 11, dan 12 SMA/SMK.

"Mekanismenya, sekolah dibuka 3 hari dalam 1 minggu, yakni pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Sedangkan hari Selasa dan Kamis akan dilakukan pembersihan sekolah dengan disinfektan," jelas dia.

Namun demikian, Momon masih enggan menyebutkan nama-nama sekolah yang mengikuti uji coba itu. "Nanti saja (saya sampaikan) kalau sudah final," kata dia.

Momon menambahkan, hingga saat ini belum ada kendala untuk melaksanakan uji coba ini. Tidak ada pula orang tua siswa yang protes.

Penerapan uji coba ini nanti memang akan dilakukan atas seizin orang tua siswa. Akan diterapkan juga pembatasan kapasitas untuk mencegah penularan virus corona. "Siswa yang boleh masuk maksimal 50 persen dari jumlah siswa dan diizinkan oleh orang tua," ujar Momon.

Oleh karenanya, saat 50 persen siswa belajar tatap muka, maka 50 persen sisanya belajar secara daring di rumah. Lalu pada pekan selanjutnya, gilirannya dibalik. Yang sebelumnya belajar di rumah akan belajar langsung di sekolah.

Baca juga : Gubernur Papua Masuk PNG Secara Ilegal, Mendagri: Memalukan

Momon mengatakan, uji coba sekolah tatap muka ini memang dilakukan secara terbatas. Uji coba ini akan dijadikan acuan untuk menentukan pelaksanaan sekolah tatap muka di Ibu Kota nantinya.

Pada hari Senin, siswa yang ikut belajar tatap muka adalah kelas 4 SD, 7 SMP, dan 10 SMA di sekolah masing-masing. Pada hari Rabu giliran siswa kelas 5 SD, 8 SMP, dan 11 SMA. Pada Jumat untuk siswa kelas 6 SD, 9 SMP, dan 12 SMA.

Saat uji coba belajar tatap muka, setiap siswa juag diatur berjarak 1,5 meter. Durasi belajar-mengajar tatap muka dibatasi hanya 3-4 jam untuk menghindari jam istirahat.

Adapun materi yang disampaikan adalah mata pelajaran esensial yang dinilai tidak efektif jika dilakukan secara daring (online). Pihaknya telah memberikan pelatihan mengenai pembelajaran campuran atau blended learning kepada para guru yang terlibat selama masa uji coba ini.

Jika selama masa uji coba ditemukan siswa maupun tenaga pendidik yang positif Covid-19, maka sekolahnya akan ditutup selama tiga hari. Selanjutnya akan dilakukan contact tracing oleh pihak Puskemas atau rumah sakit terdekat. "Semua sekolah yang ikut uji coba sudah koordinasi dengan Puskemas terdekat," kata Momon lagi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement